JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal mendesak pemerintah memberikan kepastian terkait atribut yang akan digunakan kontingen Indonesia dalam misi perdamaian Gaza di bawah International Stabilization Force (ISF).
Sorotan utama diarahkan pada kemungkinan pasukan RI tidak lagi mengenakan helm biru (blue helmet) yang selama ini menjadi identitas khas pasukan penjaga perdamaian PBB.
Melalui unggahannya di platform X, Jumat (20/2/2026), Dino menilai isu tersebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut prinsip, legitimasi, serta persepsi internasional terhadap posisi Indonesia.
Ia meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka apabila terdapat perubahan penggunaan atribut.
“Perlu ada kejelasan dari pemerintah apakah pasukan perdamaian Indonesia di Gaza akan menggunakan blue helmet sebagaimana biasanya pasukan PBB. Kalau tidak, ini akan menjadi pertama kalinya pasukan Indonesia tidak menggunakan blue helmets dan harus dijelaskan kepada publik alasannya,” tulis Dino.
Selain itu, Dino juga mengapresiasi langkah Prabowo Subianto yang tidak mengumumkan kontribusi dana besar untuk menjadi anggota permanen Board of Peace (BoP).
Menurutnya, Indonesia tidak perlu mengejar status keanggotaan permanen dalam forum tersebut. Ia menilai kontribusi pengiriman pasukan penjaga perdamaian sudah menjadi peran yang tepat bagi Indonesia.
“Saya apresiasi Presiden Prabowo tidak mengumumkan kontribusi Indonesia 1 miliar dolar AS untuk menjadi anggota permanen BoP. Peran sumbang pasukan penjaga perdamaian sudah cukup,” tegasnya.
Sebelumnya, dalam forum perdana BoP di Amerika Serikat, Presiden Prabowo menyatakan kesiapan Indonesia mengerahkan lebih dari 8.000 personel guna mendukung stabilisasi Gaza di bawah ISF.
“Kami menegaskan kembali komitmen kami untuk menyumbangkan sejumlah besar pasukan, hingga 8.000 atau lebih jika diperlukan,” ujar Prabowo di hadapan Donald Trump dan para delegasi internasional.
Desakan Dino menambah perhatian publik terhadap detail teknis dan legitimasi misi perdamaian Indonesia, yang dinilai akan memengaruhi persepsi global terhadap keterlibatan RI di Gaza.














