Prabowo: Kepemimpinan Harus Dibangun Tanpa Dendam dan Kebencian

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menekankan bahwa arah kepemimpinan nasional harus berlandaskan kejernihan batin, rasa keadilan, serta semangat mempersatukan. Ia mengingatkan, pemimpin yang membawa emosi negatif seperti dendam, kebencian, dan iri hati justru berisiko merusak persatuan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada Mujahadah Kubro peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu, 8 Februari 2026. Di hadapan lautan jamaah NU, Prabowo menegaskan bahwa menjaga keharmonisan nasional merupakan amanah utama seorang pemimpin.

Menurut Kepala Negara, pemimpin tidak seharusnya sibuk menyimpan luka masa lalu atau terus mencari kesalahan pihak lain. Sikap semacam itu, kata dia, hanya akan memperlebar jurang perpecahan di tengah masyarakat.

Ia menambahkan, prinsip kepemimpinan yang mengutamakan ketulusan dan persaudaraan sejatinya telah diwariskan oleh para ulama serta para pendiri bangsa. Dalam pandangannya, perbedaan pendapat adalah bagian alami dari kehidupan bernegara, namun harus diakhiri dengan upaya menemukan titik temu.

“Para kiai, guru bangsa, dan leluhur kita selalu mengajarkan untuk tidak memelihara rasa benci dan dendam. Perbedaan boleh ada, tetapi setelah itu kita wajib kembali merajut persatuan,” ujar Prabowo.

Prabowo juga menyoroti budaya musyawarah sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang perlu terus dijaga. Ia menilai NU selama ini konsisten menunjukkan peran penting dalam merawat harmoni sosial serta menjadi contoh dalam menjaga kebersamaan di tengah keberagaman.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa persatuan merupakan kunci utama ketahanan bangsa. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa kekuatan negara sangat ditentukan oleh soliditas para pemimpinnya.

“Bangsa tidak akan maju jika para pemimpinnya saling bertikai. Karena itu, saya selalu mengajak seluruh elemen untuk bersatu,” pungkas Prabowo.