JurnalPatroliNews – Jakarta – Sekretaris Jenderal PAN sekaligus anggota DPR nonaktif, Eko Hendro Purnomo atau yang dikenal sebagai Eko Patrio, mengungkapkan bahwa dirinya kini masih menempati rumah kontrakan setelah kediamannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dijarah massa saat gelombang aksi 25–31 Agustus lalu.
Pernyataan itu disampaikan Eko ketika hadir di Polda Metro Jaya pada Jumat (12/9), yang menjadi penampilan publik pertamanya pasca insiden tersebut.
“Untuk sementara saya ngontrak di pinggiran Jakarta. Rumah saya belum terpikirkan untuk ditempati kembali, mudah-mudahan nanti ada rezeki untuk bisa merenovasi,” ucap Eko, dikutip Minggu (14/9).
Eks komedian itu mengaku rumah yang habis dijarah merupakan hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun. Namun, dalam semalam, seluruh jerih payah itu sirna.
“Karier yang saya bangun hilang begitu saja malam itu. Tentu sedih, tapi saya coba ambil hikmahnya,” katanya.
Eko menuturkan belum bisa memperkirakan total kerugian, namun menegaskan semua isi rumah lenyap tanpa sisa, mulai dari pakaian dirinya hingga anak-anaknya.
“Belum dihitung, tapi semuanya ludes. Tidak ada yang tersisa,” jelasnya.
Meski awalnya merasa kecewa, Eko mengaku kini berusaha mengikhlaskan kejadian itu.
“Kalau bicara ikhlas, awalnya pasti kecewa, tapi sekarang saya serahkan semua. Saya ingin menjadikan ini pelajaran untuk memperbaiki diri,” tambahnya.
Eko adalah satu dari empat anggota DPR yang rumahnya menjadi sasaran penjarahan pada 30 Agustus lalu. Saat itu, kemarahan massa dipicu unggahan parodi Eko terkait isu tunjangan DPR. Setelah kejadian, PAN menonaktifkan Eko dari jabatannya sebagai anggota DPR, meski ia tetap menjabat sebagai Sekjen partai.
Eko pertama kali duduk di kursi DPR pada periode 2009–2014, kemudian kembali terpilih untuk periode 2024–2029. Sebelum terjun ke politik, ia dikenal sebagai selebritas dan pelawak.
Dalam laporan harta kekayaan terakhir per September 2024, Eko tercatat memiliki kekayaan senilai Rp131,25 miliar. Kekayaannya didominasi aset berupa tanah dan bangunan, termasuk di Jakarta Selatan senilai Rp166 miliar, empat bidang tanah di Jakarta Timur senilai Rp52 miliar, serta properti di Bogor dan Nganjuk. Selain itu, ia memiliki enam mobil hampir Rp6 miliar, kas Rp8,44 miliar, serta aset bergerak lainnya sekitar Rp1,21 miliar.














