JurnalPatroliNews | Jember — Sebanyak 249 Bintara Siswa Pendidikan Kejuruan Infanteri Abituren Pendidikan Pembentukan Bintara TNI AD Gelombang III Tahun Anggaran 2026 mendapat pesan khusus dari Komandan Rindam (Danrindam) V/Brawijaya Brigjen TNI Mukhamad Albar, S.E., M.M.
Pesan tersebut disampaikan dalam Briefing Akhir Pendidikan Kejuruan Infanteri yang berlangsung di Aula Jenderal Soedirman Secaba Rindam V/Brawijaya, Jember, Selasa pagi (6/10/2026).
Dalam pengarahan yang menandai berakhirnya tahap penggemblengan kecabangan tersebut, Albar mengingatkan para Bintara agar tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis dan fisik hasil pendidikan, tetapi juga menjaga sikap, karakter serta pengendalian diri dalam menjalankan tugas sebagai prajurit.
Salah satu penekanan yang diberikan adalah filosofi “Jamu Jati Kendi”, yang dimaknai sebagai Jaga Mulut, Jaga Hati, dan Kendalikan Diri. Pesan tersebut ditempatkan sebagai pedoman moral agar para prajurit mampu menjaga ucapan, sikap dan perilaku ketika menghadapi berbagai situasi di lapangan.
Jamu: Jaga Mulut
Dalam penjelasannya, JAMU merupakan kependekan dari Jaga Mulut.
Filosofi tersebut mengingatkan prajurit untuk berhati-hati dalam menggunakan lisan. Setiap ucapan harus dipertimbangkan agar tidak berubah menjadi perkataan yang menyakiti, memicu konflik, menyebarkan fitnah maupun merusak kepercayaan.
Makna tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh agar tetap halal, baik dan memberikan manfaat.
Bagi seorang prajurit, kemampuan berbicara dengan tepat menjadi bagian dari kedisiplinan. Sebab, ucapan yang tidak terkendali dapat membawa konsekuensi terhadap diri sendiri maupun satuan.
Jati: Jaga Hati
Pesan berikutnya adalah JATI, yakni Jaga Hati.
Para Bintara diingatkan untuk terus menjaga kebersihan hati dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, iri hati, dengki serta mudah terpancing emosi.
Sebaliknya, mereka didorong menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati dan keteguhan dalam menjalankan amanah sebagai prajurit.
Nilai tersebut menjadi penting karena perjalanan seorang Bintara tidak berhenti ketika pendidikan selesai. Mereka akan berhadapan dengan dinamika tugas, lingkungan, rekan kerja serta masyarakat yang membutuhkan kedewasaan sikap.
Kendi: Kendalikan Diri
Bagian terakhir dari filosofi tersebut adalah KENDI, yang berarti Kendalikan Diri.
Pengendalian diri mencakup kemampuan mengontrol emosi, ambisi serta hawa nafsu ketika menghadapi tekanan maupun persoalan.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa kekuatan seorang prajurit bukan hanya ditentukan oleh keberanian, kemampuan fisik dan keterampilan kemiliteran, tetapi juga oleh kemampuannya mengambil keputusan secara tenang dan bertanggung jawab.
Dengan menguasai diri, seorang prajurit diharapkan mampu tetap profesional ketika menghadapi situasi sulit dan tidak mudah bertindak berdasarkan dorongan sesaat.
Bekal Memasuki Tugas Keprajuritan
Selain pesan moral, Danrindam V/Brawijaya mengingatkan 249 Bintara tersebut untuk menerapkan seluruh dasar keprajuritan yang telah diperoleh selama pendidikan.
Mereka diminta tetap mematuhi perintah pelatih, mempertahankan kedisiplinan, menjaga motivasi serta menjunjung tinggi sportivitas.
Pendidikan kejuruan infanteri merupakan kelanjutan dari tahapan pendidikan pembentukan yang telah mereka jalani sebelumnya. Materi pendidikan kemudian diperdalam dengan fokus pada kemampuan dan pengetahuan kecabangan infanteri.
Rangkaian pendidikan diarahkan untuk membentuk Bintara Infanteri yang memiliki kualifikasi sesuai Spesialisasi Jabatan Militer (SJM) tingkat 5 kecabangan Infanteri. Proses tersebut juga ditopang dengan pembentukan sikap dan perilaku berdasarkan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI.
Bukan Sekadar Kuat, tetapi Berkarakter
Pembentukan prajurit melalui pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan personel yang tangguh secara fisik.
Karakter, disiplin serta kemampuan mengendalikan diri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme prajurit. Karena itu, pesan “Jamu Jati Kendi” menjadi relevan sebagai pengingat sederhana yang dapat dibawa para Bintara ketika mereka kembali ke satuan dan memasuki tahapan tugas berikutnya.
Rindam V/Brawijaya sendiri secara konsisten menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan prajurit yang memiliki disiplin, ketahanan fisik, mental serta nilai-nilai keprajuritan. Pada pendidikan sebelumnya, para Bintara juga ditekankan untuk menjadikan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas.
Hadirkan Unsur Pimpinan Secaba
Briefing tersebut turut dihadiri Dansecaba Rindam V/Brawijaya Letkol Inf Yunif Risa Putra, S.Hub.Int., Letkol Inf Irawan Setyadi, Wadan Secaba Mayor Inf Muhammad Ihwan, serta staf Secaba Rindam V/Brawijaya.
Kehadiran jajaran pimpinan lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembekalan sebelum para Bintara menyelesaikan tahapan pendidikan kejuruan yang mereka jalani.
Mukhamad Albar sebelumnya juga tercatat memimpin berbagai tahapan pendidikan Bintara di Secaba Rindam V/Brawijaya selama 2026, termasuk pembukaan dan penutupan pendidikan Bintara Infanteri.
Pesan Sederhana untuk Perjalanan Panjang
Sebanyak 249 Bintara kini bersiap membawa bekal pendidikan menuju pengabdian di satuan masing-masing.
Di tengah tuntutan tugas yang semakin kompleks, pesan Jaga Mulut, Jaga Hati, dan Kendalikan Diri menjadi pengingat bahwa profesionalisme prajurit tidak hanya diukur dari kecakapan menggunakan kemampuan militer, tetapi juga dari cara menjaga kehormatan diri, satuan dan institusi.
Dari Jember, pesan Danrindam V/Brawijaya itu menjadi bekal sederhana namun mendasar bagi para Bintara baru: berbicara dengan bijak, menjaga hati dan mampu menguasai diri dalam setiap keadaan.















Komentar