JurnalPatroliNews – Jakarta – Tentara Nasional Indonesia (TNI) menegaskan bahwa pernyataan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal 12 Juli 2025 yang menyebut empat pemuda Papua yang kembali ke pangkuan NKRI sebagai pelajar biasa adalah tidak benar dan menyesatkan.
Kapuspen TNI, Mayjen Kristomei Sianturi dalam keterangannya, Minggu (13/7), menegaskan bahwa keempat pemuda tersebut yakni Eden Tabuni, Eranus Tabuni, Yopi Tabuni, dan Kilitus Murib, dengan sadar dan tanpa paksaan kembali ke NKRI. Ikrar kesetiaan mereka disampaikan langsung di hadapan aparat keamanan, tokoh adat, masyarakat, dan pemerintah daerah.
“Mereka memutuskan kembali setelah menyadari bahwa jalur kekerasan hanya membawa penderitaan dan kehancuran bagi masa depan mereka,” ujar Kristomei.
Ia membenarkan bahwa sebelumnya mereka memang berstatus pelajar. Namun faktanya, mereka telah terlibat aktif dalam kelompok bersenjata OPM. Mereka bergabung setelah adanya perekrutan yang menyasar anak-anak dan remaja. Situasi internal yang penuh konflik di tubuh OPM dan ancaman pembunuhan terhadap mereka karena dianggap tidak loyal menjadi salah satu alasan mereka memilih menyerahkan diri.
TNI juga menegaskan bahwa keberadaan status sebagai pelajar tidak menafikan keterlibatan dalam aksi-aksi kelompok bersenjata. Selama ini OPM diketahui merekrut remaja untuk dijadikan kurir, penjaga, hingga pelaku operasi bersenjata.
Narasi TPNPB-OPM yang mengklaim tidak mengenal nama-nama tersebut disebut TNI sebagai upaya menutup-nutupi fakta bahwa kekuatan mereka di akar rumput semakin melemah. Banyak anggota yang kini mulai sadar bahwa perjuangan bersenjata hanya menghasilkan janji kosong dan kekerasan internal.
Kapuspen TNI menilai bahwa langkah empat pemuda tersebut adalah angin segar bagi upaya damai di Papua. “Kembalinya mereka adalah simbol perubahan dan harapan baru. Masyarakat Papua ingin damai, bukan terus-menerus hidup dalam ketakutan,” tegasnya.
TNI juga menilai sikap TPNPB-OPM yang terus mengelak adalah bentuk kepanikan, sebab makin banyak anak muda yang memilih kembali ke pangkuan NKRI setelah menyadari kebrutalan di dalam kelompok tersebut.














