Jerman Peringatkan Bahaya Ancaman Nuklir Rusia, Serukan Perdamaian Dunia Bebas Senjata Nuklir

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan global akibat konflik Rusia dan NATO memunculkan kembali kekhawatiran soal eskalasi senjata nuklir. Dalam peringatan 80 tahun tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap situasi tersebut.

Berbicara pada acara peringatan yang digelar Rabu (7/8/2025), Wadephul menegaskan bahwa tidak ada pihak yang dapat memenangkan perang nuklir, dan jika itu terjadi, dampaknya akan menghancurkan umat manusia secara menyeluruh. Ia secara tegas menyoroti sikap Rusia yang kerap melontarkan retorika ancaman nuklir sebagai respons terhadap ketegangan dengan NATO, terutama dalam konteks konflik berkepanjangan di Ukraina.

“Sayangnya, kita melihat praktik pemerasan nuklir yang dilakukan Rusia, dan ini jelas mengguncang kembali landasan aturan nuklir internasional serta perannya sebagai penyangga utama keamanan global,” ungkap Wadephul seperti dikutip dari Newsweek.

Jerman, kata dia, tetap berkomitmen untuk memastikan negara-negara seperti Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Wadephul juga menyerukan pentingnya memperkuat pilar-pilar hukum internasional dalam menjaga stabilitas dunia.

“Untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan, dunia harus terus memperkuat sistem pencegahan dan pertahanan, sembari menghidupkan kembali semangat aturan global yang menjunjung prinsip non-proliferasi,” ucapnya.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di tubuh NATO bahwa tatanan stabilitas nuklir global semakin rapuh akibat situasi geopolitik yang memanas. Salah satu pemicunya adalah dukungan militer NATO terhadap Ukraina, yang masih bertempur melawan invasi Rusia.

Selain Rusia, perhatian dunia juga tertuju pada Iran yang program nuklirnya terus menimbulkan kontroversi. Meski Teheran bersikukuh bahwa proyek nuklirnya hanya ditujukan untuk keperluan sipil, berbagai laporan menyebutkan bahwa Iran telah memperkaya uranium di atas ambang batas yang dibutuhkan untuk tujuan non-militer.

Diduga, Iran mulai mempererat hubungan strategis dengan Rusia usai fasilitas nuklirnya diserang oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel. Terkait hal ini, Wadephul menegaskan dukungan Jerman bersama Inggris dan Prancis untuk memperkuat implementasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), demi mencegah Iran atau negara lain memiliki senjata nuklir.

NPT sendiri merupakan perjanjian internasional yang ditandatangani pada tahun 1968, dengan tujuan utama mencegah penyebaran senjata nuklir dan mendorong pelucutan senjata secara bertahap. Hingga kini, hampir 200 negara telah menjadi pihak dalam perjanjian tersebut, menjadikannya sebagai kesepakatan non-proliferasi paling luas di dunia.

Namun di tengah upaya diplomasi internasional itu, Iran memberi sinyal tetap siap melanjutkan pengayaan uranium. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Financial Times, mengungkapkan bahwa negaranya memiliki teknologi dan sumber daya manusia untuk mengaktifkan kembali fasilitas pengayaan uranium meskipun beberapa lokasi rusak akibat serangan.

“Fasilitas bisa dibangun kembali, dan mesin bisa diganti. Teknologi sudah kami kuasai. Ilmuwan dan teknisi kami masih siap bekerja,” ujar Araghchi. “Pertanyaannya hanya tinggal soal waktu dan kondisi yang kami anggap tepat untuk kembali melanjutkan prosesnya.”

Dinamika ini membuat dunia internasional kian waspada. Ancaman eskalasi nuklir di tengah konflik geopolitik yang belum mereda menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk mencari solusi damai yang berkelanjutan tanpa senjata pemusnah massal.