Mahalnya Rumah di Kota Besar, Gen Z Dihadapkan Pilihan: Beli atau Sewa?

JurnalPatroliNews – Jakarta – Lonjakan harga rumah di kota-kota besar membuat generasi muda, khususnya Gen Z, menghadapi dilema membeli atau menyewa hunian.

Keterbatasan lahan, pertumbuhan penduduk, dan tingginya permintaan membuat harga tanah di kawasan metropolitan naik jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan masyarakat. Akibatnya, daya beli, terutama bagi mereka yang baru memulai karier, semakin tertekan.

Meski pemerintah telah meluncurkan program subsidi seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan bantuan uang muka, hambatan memiliki rumah sendiri tetap terasa berat.

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menyebut memiliki rumah masih menjadi impian banyak orang, baik sebagai tempat tinggal, simbol pencapaian, maupun bentuk investasi jangka panjang. Namun, ia mengingatkan risiko finansial yang harus siap ditanggung, terutama bagi pembeli dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Mengambil KPR berarti siap terikat kontrak 15–20 tahun. Anggaran untuk hiburan atau kebutuhan lain akan terpangkas karena harus fokus membayar cicilan,” kata Andi kepada wartawan, Kamis (7/8).

Andi menambahkan, pilihan rumah terjangkau biasanya berada di daerah penyangga kota. Rumah di pusat kota cenderung lebih mahal, berukuran kecil, atau kurang nyaman. Sementara, lokasi murah bisa jauh dari tempat kerja, memicu biaya transportasi tambahan.

Jika rumah di daerah penyangga tidak ditempati karena jarak, Andi menyarankan untuk menyewakannya agar uang sewa bisa membantu membayar cicilan.

Keputusan membeli atau menyewa, menurut Andi, tergantung tujuan finansial dan gaya hidup. Membeli rumah di pinggiran kota bisa menjadi investasi, tetapi butuh uang muka sekitar 20% dari harga rumah dan komitmen cicilan bulanan yang besar.

Sementara itu, perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, menekankan batas aman cicilan KPR adalah maksimal 35% dari penghasilan bulanan. Ia mengingatkan risiko kenaikan bunga setelah masa promo berakhir.

Budi juga menyarankan agar jenis hunian disesuaikan dengan kebutuhan. Apartemen atau rumah susun bisa menjadi alternatif jika ingin dekat dengan pusat kota. Selain itu, calon pembeli harus memperhitungkan pajak, biaya perawatan, dan iuran lingkungan.

Jika dana belum cukup, Budi menyarankan menabung lebih dulu atau membeli tanah untuk kemudian dibangun secara bertahap. Menyewa dekat kantor sambil mengumpulkan modal untuk rumah di lokasi strategis masa depan juga bisa menjadi pilihan.

Bagi Gen Z di kota besar, membeli rumah masih relevan asalkan dilakukan dengan perencanaan matang, kesiapan finansial, dan tujuan jangka panjang yang jelas. Menyewa pun bukan kerugian jika memberi keleluasaan finansial dan kenyamanan hidup.