Anies Baswedan: Pendidikan Jangan Hanya Cetak Karyawan, tapi Warga Negara Kritis dan Empatik

JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyoroti arah sistem pendidikan nasional yang menurutnya terlalu berfokus pada dunia kerja. Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya berfungsi membentuk warga negara yang berpikir kritis, kreatif, dan memiliki empati sosial.

Hal itu disampaikan Anies dalam forum ASEAN for the Peoples Conference pada sesi bertajuk “Ideas to Upgrade and Reform Our Education Ecosystem” di The Sultan Hotel, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (5/10).

“Kita sedang menyaksikan perubahan besar akibat perkembangan AI, otomatisasi, dan gig economy. Banyak pekerjaan rutin akan hilang, dan yang dibutuhkan sekarang adalah kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan beradaptasi,” ujar Anies.

Menurutnya, paradigma pendidikan yang hanya menyiapkan peserta didik sebagai tenaga kerja sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman.

“Pendidikan bukan sekadar alat untuk mencetak karyawan. Tujuan sejatinya adalah membentuk manusia utuh yang dapat berperan aktif dalam masyarakat dan demokrasi,” tegasnya.

Anies menguraikan ada tiga aspek utama yang perlu menjadi fokus dalam pembenahan sistem pendidikan ke depan, yaitu:

  1. Literasi digital, yang tidak hanya menekankan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dan etika dalam penggunaannya.
  2. Kemampuan pemecahan masalah, agar siswa mampu mencari solusi kreatif terhadap tantangan baru di masa depan.
  3. Empati dan kolaborasi, karena kesuksesan di era modern tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan juga kerja sama dan kepedulian terhadap sesama.

“Dunia sekarang menuntut kolaborasi. Kesuksesan bukan lagi soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling bisa bekerja sama,” ujar Anies menambahkan.

Di akhir pemaparannya, Anies menekankan bahwa orientasi pendidikan nasional perlu bergeser dari konsep pengembangan sumber daya manusia (SDM) menuju pembangunan manusia seutuhnya.

“Pendidikan harus mempersiapkan seseorang menjadi manusia yang berdaya, bukan hanya pekerja. Karena itu, kita harus bicara tentang pembangunan manusia, bukan sekadar pengembangan SDM,” tutupnya.