JurnalPatroliNews – Jakarta – Sejak 2014, PT Pertamina (Persero) terus menggulirkan program besar revitalisasi dan pembangunan kilang baru di berbagai wilayah Indonesia. Inisiatif strategis ini dikenal dengan nama Refinery Development Masterplan Program (RDMP), yang mencakup pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) sekaligus peningkatan kapasitas kilang lama.
Saat ini, melalui anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), terdapat enam kilang utama yang beroperasi, yaitu Dumai (Riau), Plaju (Sumatera Selatan), Balongan (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), dan Kasim (Papua Barat Daya).
“Keenam kilang tersebut mampu mengolah hingga 1 juta barel minyak mentah per hari, menghasilkan berbagai produk seperti BBM, LPG, avtur, hingga petrokimia,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, Senin (13/10/2025).
Revitalisasi Kilang untuk Energi Bersih
Dalam rangka meningkatkan kapasitas, Pertamina sudah menjalankan proyek RDMP di Balongan dan Balikpapan, sementara kilang Cilacap dan Dumai tengah diarahkan menjadi green refinery untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan seperti Pertamina Renewable Diesel (RD), Pertamax Green, dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Selain itu, kilang Plaju dan Kasim berperan dalam mendukung program Biosolar B40 pemerintah. Sebelumnya, proyek Pertamina Langit Biru Cilacap (2019) berhasil meningkatkan kualitas BBM agar lebih ramah lingkungan, sementara RDMP Balongan (2022) meningkatkan kapasitas pengolahan dari 125 ribu menjadi 150 ribu barel per hari.
Dengan pencapaian tersebut, Pertamina menegaskan kini sudah tidak perlu lagi mengimpor solar dan avtur.
Pada 2025, RDMP Balikpapan ditargetkan menguji coba unit baru Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) yang akan menaikkan kapasitas total kilang menjadi 1,16 juta barel per hari. Proyek ini juga meningkatkan Nelson Complexity Index kilang dari 4,1 menjadi 8, sehingga produk yang dihasilkan lebih bervariasi sekaligus sesuai standar Euro 5 dengan kadar sulfur rendah.
Pertamina juga menyiapkan proyek besar lainnya, yakni GRR Tuban (Jawa Timur), yang akan menambah kapasitas pengolahan 300 ribu barel per hari.
Dorong Bisnis Petrokimia Nasional
Tidak hanya berfokus pada BBM, Pertamina juga memperkuat bisnis petrokimia melalui anak usaha dan afiliasinya.
TPPI (Trans-Pacific Petrochemical Indotama) telah meningkatkan kapasitas produksi aromatik dari 600 ribu menjadi 780 ribu ton per tahun, dan sedang mengkaji pembangunan kompleks pabrik olefin dengan target pasokan bahan baku plastik hingga 1,6 juta ton per tahun.
PT Polytama Propindo di Balongan, Indramayu, berencana meningkatkan kapasitas produksi petrokimia 300 ribu ton per tahun, dengan target beroperasi pada 2028.
Pertamina juga aktif mengidentifikasi potensi produk petrokimia baru untuk memperluas kontribusi industri dalam negeri.
“Dengan pengembangan kilang dan petrokimia ini, Pertamina yakin dapat memperkuat kemandirian energi nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta mendorong pertumbuhan industri hilir,” pungkas Fadjar.








