AS dan China Akhiri Perang Dagang Maritim, Biaya Pelabuhan Dihapus Sementara

JurnalPatroliNews – Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya mencapai kesepakatan penting untuk mengakhiri kebijakan biaya pelabuhan timbal balik, yang selama ini memperburuk tensi perdagangan di sektor maritim antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Melansir Reuters, Jumat (31/10/2025), kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada Kamis (30/10/2025).

Dalam perjanjian itu, kedua negara sepakat menangguhkan biaya pelabuhan selama 12 bulan, dengan nilai sekitar US$ 3,2 miliar per tahun bagi kapal buatan China yang berlabuh di pelabuhan Amerika.

Kebijakan biaya pelabuhan sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump berdasarkan Pasal 301, dengan tujuan memperkuat industri pembuatan kapal nasional dan mengurangi dominasi Tiongkok dalam sektor logistik serta maritim global.

Namun, langkah itu justru menyebabkan kenaikan tarif pengiriman dan gangguan pada rantai pasok internasional.

Kementerian Perdagangan China menyambut keputusan tersebut dan menyatakan akan menangguhkan tindakan balasan terhadap kapal yang terafiliasi dengan AS.

“Langkah ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas perdagangan dunia,” ujar pernyataan resmi kementerian.

Kebijakan saling sanksi sebelumnya telah memukul sejumlah operator besar seperti COSCO dari China dan Matson Inc. dari AS, yang mengalami lonjakan biaya operasional dan keterlambatan jadwal pelayaran.

Menurut High-Trend International Group, penyedia jasa logistik laut berbasis di Singapura, penangguhan ini memberikan efek langsung terhadap efisiensi sektor pelayaran.

“Penangguhan ini menghapus beban kebijakan yang selama ini menekan sektor logistik dan memperkuat stabilitas arus kas perusahaan,” jelas manajemen High-Trend.

Meski begitu, sebagian pelaku industri masih berhati-hati menilai kesepakatan ini.
“Saya berharap kebijakan ini bisa permanen agar industri pelayaran kembali fokus pada fungsinya: memfasilitasi perdagangan global,” ujar analis senior Drewry, Simon Heaney.

Data S&P Global dan CSIS menunjukkan, dominasi China di industri pembuatan kapal masih sangat kuat, dengan pangsa pasar mencapai 53% dari total pesanan global berdasarkan tonase hingga Agustus 2025, meskipun terjadi penurunan pesanan baru dibanding tahun sebelumnya.

Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah positif menuju stabilitas perdagangan global, meski para analis menilai efektivitasnya baru bisa diukur setelah masa penangguhan berakhir pada tahun depan.