JurnalPatroliNews – Jakarta – Kasus ledakan di lingkungan masjid SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada Jumat (7/11/2025) mengejutkan banyak pihak.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan bahwa pelaku, seorang anak berkonflik dengan hukum (ABH), ternyata terinspirasi oleh enam tokoh pelaku kekerasan dunia. Mereka adalah individu yang dikenal karena aksi brutal dan ideologi ekstrem yang pernah mengguncang dunia.
Ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur. Kita sebutkan ada kurang lebih enam tokoh yang tercatat, kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana, dikutip dari Antara, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, pelaku diduga meniru pola tindakan kekerasan dari enam sosok tersebut melalui komunitas daring yang mengagungkan kekerasan sebagai bentuk heroisme.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini profil enam tokoh yang menginspirasi pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, beserta latar belakang ideologi yang mereka anut.
1. Eric Harris dan Dylan Klebold
Eric Harris dan Dylan Klebold dikenal sebagai pelaku pembantaian di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat, pada 20 April 1999.
Keduanya merupakan siswa senior yang merasa terasing dan menjadi korban perundungan di sekolah. Mereka mengadopsi ideologi neo-Nazi dan menekankan supremasi ras Arya serta kebencian terhadap minoritas.
Serangan brutal mereka menewaskan 12 siswa dan satu guru sebelum keduanya bunuh diri.
2. Dylann Storm Roof
Dylann Roof adalah pelaku penembakan massal di Gereja Emanuel AME, Charleston, Carolina Selatan, pada 17 Juni 2015.
Ia membunuh sembilan jemaat kulit hitam karena terobsesi dengan ideologi supremasi kulit putih. Roof dijatuhi hukuman mati pada tahun 2017.
3. Alexandre Bissonnette
Mahasiswa Universitas Laval di Kanada ini melakukan penembakan di Pusat Kebudayaan Islam Quebec pada 29 Januari 2017, menewaskan enam orang.
Ia memiliki pandangan Islamofobia ekstrem dan aktif mendukung tokoh sayap kanan di media sosial.
4. Vladislav Roslyakov
Roslyakov melakukan penembakan massal di Politeknik Kerch, Crimea, pada 2018.
Ia menembakkan senjata ke mahasiswa dan staf serta meledakkan bom, sebelum akhirnya bunuh diri. Aksi ini terinspirasi tragedi Columbine.
5. Brenton Tarrant
Tarrant, warga Australia, menyerang dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019, menewaskan 51 orang.
Ia menyiarkan aksinya secara langsung di media sosial dan menganut ideologi fasis dan rasis. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.
6. Natalie Lynn Rupnow
Remaja 15 tahun ini menembak dua orang hingga tewas di Abundant Life Christian School, Wisconsin, pada 16 Desember 2024.
Ia diduga terlibat dalam komunitas daring yang mengagungkan kekerasan dan kepahlawanan semu.
Pola yang Sama: Kekerasan yang Dipuja di Dunia Maya
Menurut Densus 88, pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta tidak memiliki ideologi tunggal yang kuat, tetapi meniru tindakan ekstrem yang viral di komunitas daring.
Dalam komunitas tersebut, kekerasan sering dianggap sebagai bentuk keberanian atau kepahlawanan.
Artinya tidak ada satu ideologi yang konsisten yang dia ikuti, di sini menunjukkan bahwa ABH hanya sekadar terinspirasi dan ada pola yang berurutan yang mereka posting di komunitas media sosialnya, kata AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Ia menegaskan bahwa fenomena ini menjadi peringatan akan bahaya glorifikasi kekerasan di dunia maya. Kekerasan dapat ditiru hanya karena pengaruh digital, tanpa dasar ideologi yang matang.














