JurnalPatroliNews – Jakarta – China tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi, dan pemerintah berharap generasi muda bisa lebih banyak berbelanja untuk mendorong pertumbuhan. Namun, upaya itu tampaknya belum membuahkan hasil.
Rendahnya konsumsi domestik menjadi salah satu penghambat utama pertumbuhan ekonomi. Para lulusan baru pun memilih berhati-hati. Tingkat pengangguran di kalangan muda telah bertahan di bawah 20% untuk waktu yang cukup lama.
Mereka yang sudah bekerja juga diliputi kekhawatiran kehilangan pekerjaan, sementara krisis properti membuat kepemilikan rumah terasa semakin jauh dari jangkauan, terutama di kota-kota besar.
Ketidakpastian ini mendorong banyak anak muda China mengadopsi gaya hidup hemat, dan media sosial kini dipenuhi tips bertahan hidup dengan anggaran terbatas.
Salah satu contohnya adalah Zhang, influencer berusia 24 tahun yang dikenal sebagai Zhang Small Grain of Rice, dengan gaya hidup minimalis.
Ia menggunakan satu batang sabun untuk seluruh kebutuhan kebersihan pribadi, dan memamerkan barang-barang seperti tas serta pakaian tahan lama sebagai simbol efisiensi. Zhang memiliki lebih dari 97.000 pengikut di platform Xiaohongshu dan bekerja sama dengan berbagai merek.
“Saya berharap lebih banyak orang memahami jebakan konsumsi sehingga bisa menabung. Ini akan mengurangi stres dan membuat hidup lebih rileks,” ujarnya, dikutip BBC, Kamis (13/11/2025).
Selain itu, konten bertema hemat makanan juga populer. Seorang pria 29 tahun bernama Little Grass Floating In Beijing membuat video masakan sederhana, dengan dua kali makan hanya menghabiskan sekitar US$ 1 (Rp 16.000). Ia berhasil menabung lebih dari US$ 180.000 (Rp 2,9 miliar) dalam enam tahun.
China memang dikenal sebagai ekonomi tangguh, mampu bertahan dari pandemi dan perang dagang dengan Amerika Serikat. Namun, para analis menilai negara ini menghadapi tantangan serius jika konsumsi domestik tidak meningkat.
Berbeda dengan Amerika Serikat yang masyarakatnya cenderung menumpuk utang kartu kredit, warga China justru lebih memilih menabung daripada berbelanja. Saat ini, konsumsi rumah tangga hanya sekitar 39% dari PDB, jauh di bawah rata-rata 60% di negara maju.
Salah satu penyebabnya adalah sikap pesimis generasi muda terhadap masa depan. Seorang perempuan di Beijing mengatakan, “Saat ini menghasilkan uang lebih penting. Saya harus menekan pengeluaran karena gaji saya turun setelah pindah kerja. Lingkungan ekonomi yang buruk membuat orang merasa tidak pasti.”
Tingkat pengangguran muda yang tinggi memberi peluang bagi perusahaan untuk menekan gaji. Banyak lulusan universitas, bahkan bergelar master, kini bekerja sebagai pengantar barang.
Ekonom Oxford University, George Magnus, menyebut fenomena ini sebagai bukti ketidakcocokan antara kualifikasi pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Sementara itu, Helena Lofgren dari Swedish Institute of International Affairs menilai ekonomi China terlalu bergantung pada investasi industri dan ekspor, padahal konsumsi domestik sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Influencer Zhang menambahkan, budaya hidup hemat sudah menjadi bagian dari tradisi. “Generasi kakek saya sangat hemat. Menjadi ekonomis adalah bagian dari darah orang China,” ujarnya.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya mendorong konsumsi dengan berbagai insentif, seperti program penggantian mobil dan peralatan rumah tangga. Namun, dampaknya masih minim.
Para analis menilai optimisme generasi muda perlu dibangun kembali, misalnya melalui peningkatan jaminan sosial dan kenaikan upah minimum. Tanpa langkah-langkah ini, risiko deflasi dan lemahnya konsumsi bisa menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.














