JurnalPatroliNews – Jakarta -Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melaporkan pihaknya belum dapat memverifikasi status cadangan uranium Iran sejak serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran oleh Israel dan Amerika Serikat pada 22 Juni 2025.
Informasi ini terungkap dari laporan rahasia IAEA yang diedarkan kepada negara-negara anggotanya, yang dirilis Rabu (12/11/2025).
Menurut laporan yang dilansir AP News, IAEA kehilangan kontinuitas informasi terkait inventaris bahan nuklir yang sebelumnya ada di fasilitas nuklir terdampak serangan.
“Masalah ini harus segera ditangani,” kata IAEA.
Badan pengawas nuklir di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu juga menyebut selama lima bulan terakhir akses mereka ke fasilitas nuklir Iran berkurang, sehingga proses verifikasi menurut standar pengamanan internasional tertunda.
Laporan terakhir IAEA pada September 2025 menyebutkan Iran menyimpan cadangan uranium sebanyak 440,9 kilogram yang diperkaya hingga kemurnian 60%, sedikit di bawah tingkat kemurnian 90% yang digunakan untuk senjata nuklir.
Cadangan tersebut memungkinkan pembangunan hingga 10 unit bom nuklir jika program nuklir negara itu diarahkan untuk senjata.
“Namun bukan berarti Iran memiliki senjata nuklir,” ujar Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi.
Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, meskipun negara-negara Barat dan IAEA menekankan bahwa hingga 2003, Iran memiliki program senjata nuklir yang terorganisir.
Sebelumnya, pada 29 Oktober 2025, Grossi mengungkap hasil pemeriksaan IAEA di sejumlah lokasi nuklir Iran yang tidak termasuk tiga fasilitas yang dibom. Pemeriksaan tersebut tidak menemukan aktivitas mencurigakan yang dapat mengancam keamanan.
“Kami tidak melihat apa pun yang memunculkan dugaan adanya pekerjaan substantif yang sedang berlangsung di sana,” jelas Grossi, mengutip laporan Reuters, Kamis (30/10/2025).














