BI Dinilai Semakin Tak Terduga Menjelang Keputusan Suku Bunga Terbaru

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menjelang pengumuman kebijakan moneter berikutnya, pelaku pasar menilai arah keputusan Bank Indonesia (BI) makin sulit diprediksi. Sepanjang tahun 2025, bank sentral tercatat sudah lima kali mengambil langkah yang tidak sejalan dengan proyeksi pasar. Selain mempertahankan suku bunga pada Oktober, BI juga sempat membuat kejutan dengan dua kali melakukan pemangkasan pada Januari dan September.

Menurut laporan Bloomberg yang mengutip analisis Bank of America, tingkat kejutan dalam keputusan BI tahun ini jauh lebih menonjol dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menambah kecemasan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ekonom Nomura, Euben Paracuelles, menilai sikap BI yang semakin berubah-ubah membuat pelaku pasar mengambil posisi yang lebih waspada. Biasanya, BI cukup responsif terhadap dinamika eksternal, seperti penguatan Dolar AS maupun kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Sebagian besar analis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen untuk menumpulkan pelemahan Rupiah yang sudah merosot 3,8 persen sepanjang tahun, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan performa terburuk. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya penurunan moderat sebesar 25 basis poin.

Sejak mendapatkan mandat tambahan pada 2022 untuk turut mendukung pertumbuhan ekonomi, langkah BI menjadi lebih kompleks. Keputusan-keputusan bank sentral kini terlihat sangat berhati-hati dan kerap berkiblat pada stabilitas rupiah serta kondisi risiko global. Beberapa ekonom menilai BI enggan agresif selama inflasi masih terkendali namun volatilitas rupiah tetap tinggi.

Fenomena kejutan kebijakan ternyata juga terjadi di sejumlah negara Asia lain, seperti Thailand dan Filipina, yang membuat keputusan tak terduga pada sekitar 40 persen rapat kebijakan moneter mereka. Ekonom OCBC, Lavanya Venkateswaran, mengungkapkan bahwa BI sebenarnya berpotensi memangkas suku bunga 25 basis poin dalam pertemuan hari ini. Meski demikian, kehati-hatian tetap mendominasi mengingat tekanan nilai tukar dan inflasi yang masih terkontrol.

Walau muncul kekhawatiran BI dapat berubah arah kebijakan sewaktu-waktu, tren pelonggaran tetap diantisipasi bertahan karena lemahnya permintaan dalam negeri. BI juga sebelumnya memberi sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga tetap ada menjelang 2026, namun waktunya sangat bergantung pada stabilitas rupiah.

Rupiah kembali melemah pada November seiring meningkatnya arus keluar dana asing. Di sisi lain, inflasi pangan yang mencapai 6,6 persen pada Oktober turut mendorong inflasi keseluruhan ke titik tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir.