Krisis Listrik Masih Membayangi Sangihe, Organisasi Mahasiswa Desak Optimalisasi Energi Terbarukan!

JurnalPatroliNews – Jakarta – Permasalahan keandalan pasokan listrik kembali menjadi sorotan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Wilayah ini dinilai masih menghadapi krisis energi, meski memiliki potensi besar pada sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti tenaga surya dan tenaga hidro.

Sangihe memiliki sejumlah contoh pemanfaatan EBT, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Lipang serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Tamako. Namun, implementasi tersebut dinilai belum cukup menjawab kebutuhan energi masyarakat.

Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Gian Alto Makagian, menyoroti masih adanya desa yang hanya mendapatkan layanan listrik kurang dari delapan jam dalam sehari. Ia mencontohkan kondisi Desa Belae Malamenggu yang hingga kini masih bergantung pada aliran listrik terbatas.

“Listrik telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Dari memasak, memanaskan air, menyimpan bahan makanan, hingga kebutuhan pendidikan dan pelayanan publik yang kini berbasis online—semuanya memerlukan pasokan listrik,” tegas Gian.

Hal senada disampaikan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Niko Horohiung. Ia menyebut isu kelistrikan menjadi keluhan dominan yang muncul di tengah masyarakat.

“Keluhan soal listrik bisa ditemui di mana saja—mulai dari unggahan media sosial hingga obrolan santai di teras rumah warga,” ujar Niko.

Ia juga menilai sudah hampir setahun pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe berjalan, sehingga sudah semestinya ada capaian nyata, termasuk dalam penyelesaian persoalan pasokan listrik.

Niko menekankan bahwa pemerintah daerah harus mampu menangkap peluang dari program Asta Cita pemerintahan Prabowo–Gibran, khususnya dalam agenda hilirisasi industri. Menurutnya, peluang tersebut harus dimaksimalkan untuk mengembangkan industri Energi Baru Terbarukan di Sangihe.

“Persoalan listrik harus menjadi perhatian serius dan segera dicarikan solusi. Potensi EBT sangat besar, tinggal bagaimana daerah memanfaatkannya dengan optimal,” tutup Niko.