JurnalPatroliNews – Jakarta – Aksi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), yang terlihat memanggul sekarung beras sambil menyapa warga saat meninjau lokasi banjir bandang di Koto Panjang Ikur Koto, Koto Tangah, Padang pada Minggu, 30 Desember 2025, disebut bukan bagian dari upaya pencitraan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat), Sugiyanto, melalui keterangan tertulis kepada RMOL pada Kamis, 4 Desember 2025.
Sugiyanto menyebut telah mencermati tiga video yang diunggah PAN TV. Pada video pertama, Anggota DPR RI Fraksi PAN Verrel Bramasta tampak memberikan penjelasan mengenai rumah warga yang hanyut terseret aliran sungai. Anggota DPR lainnya, Surya Utama atau Uya Kuya, terlihat berbincang dengan seorang ibu korban banjir yang kehilangan anggota keluarganya.
Selanjutnya, dalam video yang sama, Zulhas selaku Ketua Umum PAN menjabarkan kondisi pemukiman warga yang hilang akibat banjir. Ia juga memastikan sudah berkoordinasi dengan Wali Kota untuk menyiapkan lahan relokasi, sementara pemerintah akan segera membangun kembali rumah-rumah warga yang terdampak.
Pada video kedua, terlihat momen ketika Zulhas menenangkan warga yang terisak menangis karena kehilangan harta benda. Ia memberikan semangat dan menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk membantu, termasuk memastikan pembangunan hunian kembali.
Sikap tersebut menurut Sugiyanto sepenuhnya sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang mewajibkan pejabat negara menjamin perlindungan, bantuan, dan pemulihan bagi masyarakat terdampak bencana.
Video ketiga menayangkan momen yang viral—Zulhas memanggul karung beras, menyapa para warga terdampak, serta ikut membantu membersihkan lumpur di sekitar permukiman. Ia kembali menegaskan komitmen pemerintah dan kesediaannya memberi bantuan dari kantong pribadi.
“Inilah video yang memicu perdebatan dan dianggap sebagian pihak sebagai pencitraan. Namun jika dilihat secara utuh dari keseluruhan dokumentasi, jelas bahwa tindakan Zulhas tidak berdiri sendiri dan bukan adegan yang direkayasa,” ujar Sugiyanto.
Sugiyanto menyimpulkan bahwa aksi memanggul beras tersebut merupakan respons spontan di tengah situasi kedaruratan, muncul dari empati dan kebutuhan untuk memberikan dukungan moral kepada para korban.
“Gestur itu menunjukkan duka yang dirasakan sekaligus bentuk kepedulian di tengah musibah,” tutupnya.














