Kesepakatan dengan Utusan Trump, Belarus Bebaskan Ratusan Tahanan Politik

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Belarus Alexander Lukashenko membebaskan 123 tahanan politik, termasuk peraih Nobel Perdamaian Ales Bialiatski dan tokoh oposisi Maria Kalesnikava. Pembebasan tersebut menjadi langkah paling signifikan dalam hubungan Belarus dengan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Pembebasan itu merupakan bagian dari kesepakatan yang dimediasi oleh utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat sepakat mencabut sanksi terhadap ekspor potash Belarus, komoditas utama yang digunakan sebagai bahan baku pupuk dan menjadi sumber devisa penting bagi negara tersebut.

Langkah ini menandai pembebasan tahanan politik terbesar sejak pemerintahan Trump mulai membuka jalur komunikasi dengan Lukashenko pada awal tahun 2025.

Selama ini, Belarus dijauhi negara-negara Barat akibat penindasan terhadap oposisi politik serta dukungannya terhadap Rusia dalam perang di Ukraina.

Utusan khusus Presiden Trump, John Coale, mengatakan pembebasan ini berpotensi berlanjut. Ia menyebut masih ada sekitar 1.000 tahanan politik di Belarus yang berpeluang dibebaskan dalam beberapa bulan ke depan.

“Saya pikir itu lebih dari mungkin, bahkan sangat mungkin. Kami berada di jalur yang benar, momentumnya ada,” ujar Coale, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/12/2025).

Coale menambahkan, apabila seluruh tahanan politik dibebaskan, sebagian besar sanksi Barat terhadap Belarus dapat dicabut.

Dari total 123 tahanan yang dibebaskan, sembilan orang meninggalkan Belarus menuju Lithuania, sementara 114 lainnya dibawa ke Ukraina. Di antara mereka terdapat Ales Bialiatski, aktivis hak asasi manusia yang dipenjara sejak Juli 2021.

Dalam pernyataan publik pertamanya sejak dianugerahi Nobel Perdamaian pada 2022, Bialiatski menegaskan bahwa perjuangan hak asasi manusia di Belarus belum berakhir.

“Ribuan orang telah dan terus dipenjara. Jadi perjuangan kami berlanjut,” ujarnya.

Maria Kalesnikava, salah satu tokoh utama protes massal terhadap Lukashenko pada 2020, juga termasuk dalam rombongan tahanan yang dibawa ke Ukraina. Dalam video yang diunggah melalui kanal Telegram Ukraina, Kalesnikava menyebut kebebasannya sebagai momen penuh kebahagiaan setelah bertahun-tahun mendekam di penjara.

Kelompok hak asasi manusia Viasna mencatat, sebelum pembebasan ini, terdapat sedikitnya 1.227 tahanan politik di Belarus. Angka tersebut menunjukkan bahwa meski pembebasan besar-besaran telah dilakukan, persoalan kebebasan politik di negara itu masih menjadi perhatian internasional.

Sebelumnya, Lukashenko secara konsisten membantah keberadaan tahanan politik di Belarus dan menyebut para oposisi yang dipenjara sebagai bandit atau pelaku kejahatan.