JurnalPatroliNews – Jakarta – Produksi sampah di Kota Malang mengalami peningkatan tajam hingga mencapai 25 ton per hari selama masa libur akhir tahun 2025.
Lonjakan aktivitas masyarakat di pusat perbelanjaan, sentra kuliner, serta kawasan wisata sejarah menjadi pemicu utama meningkatnya beban limbah rumah tangga dan komersial di kota tersebut.
Peningkatan volume sampah ini tercatat melampaui estimasi awal pemerintah daerah. Jika pada hari biasa produksi sampah berkisar antara 720 hingga 730 ton, saat ini angkanya telah menyentuh 755 ton setiap harinya.
Situasi ini menuntut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk bekerja lebih ekstra guna mencegah terjadinya penumpukan di berbagai sudut kota yang dapat mengganggu estetika dan kesehatan.
Pelaksana harian Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, mengungkapkan bahwa kawasan pasar tradisional dan pemukiman yang padat aktivitas mahasiswa serta wisatawan menjadi titik penyumbang terbesar.
Peningkatan signifikan terlihat jelas di sekitar Pasar Klojen, Oro-oro Dowo, hingga kawasan sentra kuliner Sudimoro yang selalu ramai pengunjung saat musim liburan.
Kenaikan volume ini berdampak langsung pada operasional menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang.
Frekuensi pengangkutan atau ritase truk yang biasanya hanya 170 unit kini melonjak hingga 200 truk setiap hari. Meski beban kerja bertambah, pihak DLH memilih untuk melakukan efisiensi dengan menyesuaikan jam kerja petugas lapangan tanpa menambah jumlah armada maupun personel.
Intensitas pengangkutan sampah yang semula dilakukan dua kali sehari kini ditingkatkan menjadi empat kali.
Raymond menegaskan bahwa instruksi pengambilan sampah pada malam hari diberlakukan terutama di kawasan wisata unggulan seperti Kayutangan Heritage. Strategi ini diambil untuk memastikan kenyamanan wisatawan tetap terjaga dan tidak ada tumpukan sampah yang tersisa saat pagi hari tiba.














