JurnalPatroliNews – Jakarta – Kondisi ekonomi yang kian menekan memicu rangkaian demonstrasi besar di berbagai penjuru Iran. Aksi massa tersebut berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan dan menelan korban jiwa.
Pemerintah setempat pada Jumat, 2 Januari 2025, mengonfirmasi sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dalam rangkaian protes tersebut. Jumlah ini menjadikan aksi kali ini sebagai kerusuhan sosial terbesar sejak gelombang demonstrasi nasional yang terjadi pada 2022.
Aksi protes dipicu oleh lonjakan inflasi dan melemahnya nilai mata uang nasional. Meski situasi di ibu kota Teheran sempat mereda, ketegangan justru meluas ke wilayah-wilayah di luar pusat pemerintahan, terutama daerah pedesaan.
Laporan resmi menyebutkan korban jiwa tersebar di empat kota berbeda. Dua orang dilaporkan tewas pada Rabu, 31 Desember 2025, sementara lima lainnya meninggal pada Kamis, 1 Januari 2025. Sebagian besar insiden terjadi di kawasan yang mayoritas dihuni oleh komunitas etnis Lur.
Benturan paling keras tercatat di Kota Azna, Provinsi Lorestan, sekitar 300 kilometer dari Teheran. Sejumlah video yang beredar di dunia maya memperlihatkan suasana mencekam, dengan api membakar ruas jalan dan suara tembakan terdengar di tengah teriakan massa yang mengecam aparat keamanan.
Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan tiga korban jiwa dalam insiden di Azna, meski media pemerintah tidak memberikan penjelasan detail mengenai kronologi kejadian.
Ketegangan serupa juga terjadi di Kota Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari. Rekaman daring menunjukkan kerumunan warga memadati jalanan, disertai suara tembakan yang terdengar jelas. Fars, mengutip sumber pejabat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan dua orang tewas dalam unjuk rasa pada Kamis tersebut. Lembaga Hak Asasi Manusia Abdorrahman Boroumand yang berbasis di Washington menyatakan kedua korban merupakan warga sipil yang ikut berdemonstrasi.
Di lokasi lain, tepatnya Fuladshahr, Provinsi Isfahan, media pemerintah mengabarkan seorang pria meninggal dunia. Sementara kelompok aktivis menuding kematian tersebut terjadi akibat tindakan aparat yang melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa.
Selain korban dari kalangan sipil, seorang anggota relawan berusia 21 tahun dari pasukan paramiliter Basij juga dilaporkan meninggal dunia dalam insiden terpisah pada Rabu malam.
Wakil Gubernur Lorestan, Saeed Pourali, menyatakan bahwa aksi protes dipicu oleh kesulitan ekonomi yang kian berat, termasuk lonjakan harga kebutuhan pokok dan ketidakstabilan nilai tukar mata uang.
“Demonstrasi ini berakar pada tekanan ekonomi dan kekhawatiran masyarakat terhadap keberlangsungan hidup mereka,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar aspirasi warga tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. “Tuntutan masyarakat harus disikapi secara bijak, namun tidak boleh diselewengkan oleh pihak yang mencari keuntungan,” katanya.
Pemerintahan Iran di bawah Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan untuk mendengarkan suara publik. Namun pemerintah juga mengakui keterbatasan ruang kebijakan di tengah melemahnya nilai rial, yang kini berada di kisaran 1,4 juta rial per dolar Amerika Serikat.














