Proyeksi Ekonomi di Bawah 6 Persen, Target Pertumbuhan Pemerintah Dipertanyakan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang ditetapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tahun ini dinilai sulit tercapai. Sejumlah lembaga keuangan global maupun institusi riset dalam negeri memproyeksikan laju ekonomi Indonesia berada di bawah angka tersebut, bahkan sebagian memperkirakan tidak menyentuh 5 persen.

Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), hingga lembaga kajian nasional sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat. Bank Indonesia (BI) sendiri memasang kisaran pertumbuhan 4,8 hingga 5,7 persen, membuka kemungkinan realisasi ekonomi berada di level rendah.

Menanggapi proyeksi tersebut, jurnalis senior Hersubeno Arief menilai fondasi perekonomian nasional belum cukup kokoh untuk mendorong akselerasi pertumbuhan hingga 6 persen.

“Keraguan itu muncul dari konsensus yang sangat luas, baik internasional maupun domestik, yang menilai struktur ekonomi Indonesia belum siap untuk melompat ke pertumbuhan 6 persen,” ujar Hersubeno dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa daya beli masyarakat masih lemah sehingga belum mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan. Kondisi ini dinilai tidak banyak berubah meskipun pemerintah telah mengalirkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) lebih dari Rp200 triliun ke sektor perbankan.

“Masalahnya bukan di sisi pasokan likuiditas, tapi permintaan. Dana Rp200 triliun disalurkan ke bank-bank Himbara, namun kalau pasar lesu dan masyarakat enggan berutang, dorongan ke ekonomi tetap terbatas,” jelasnya.

Menurut Hersubeno, situasi tersebut justru berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), karena penyaluran kredit tidak diiringi dengan kemampuan bayar yang memadai.

Berdasarkan proyeksi terbaru, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,1 persen. Bank Dunia mematok kisaran 4,8–5 persen, ADB di level 5 persen, sementara LPEM UI memperkirakan 4,9–5 persen dan INDEF di sekitar 5 persen.

“Artinya, tidak satu pun lembaga—baik internasional maupun domestik—yang menempatkan Indonesia mendekati target 6 persen,” tegas Hersubeno.

Ia menambahkan bahwa meski Indonesia belum berada di ambang krisis, perekonomian nasional juga belum menemukan sumber pertumbuhan baru yang mampu mendorong akselerasi signifikan. Perubahan kondisi global yang berlangsung cepat, menurutnya, akan turut memberi tekanan tambahan terhadap kinerja ekonomi ke depan.