JurnalPatroliNews – Jakarta – Kinerja sektor ritel nasional menutup November 2025 dengan catatan impresif. Bank Indonesia melaporkan penjualan eceran tumbuh 6,3 persen secara tahunan, menjadi laju tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Angka tersebut melesat dibandingkan Oktober yang hanya mencatat pertumbuhan 4,3 persen.
Data yang dirilis pada Senin, 12 Januari 2026 itu menunjukkan konsumsi masyarakat terus menguat selama tujuh bulan berturut-turut. Tren positif ini dinilai tidak lepas dari peran berbagai program bantuan pemerintah yang berhasil menjaga daya beli hingga akhir tahun.
Tak hanya secara tahunan, aktivitas ritel juga bergerak lebih cepat dibanding bulan sebelumnya. Pada November, penjualan meningkat 1,5 persen secara bulanan, jauh melampaui kenaikan Oktober yang berada di kisaran 0,6 persen. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi dalam delapan bulan terakhir, sekaligus menegaskan konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama ekonomi domestik.
Prospek Desember Didongkrak Momentum Libur Panjang
Memasuki Desember 2025, Bank Indonesia memperkirakan tren positif masih berlanjut. Indeks Penjualan Riil (IPR) diproyeksikan tumbuh 4,4 persen secara tahunan. Peningkatan ini terutama disumbang oleh penjualan suku cadang dan aksesori, makanan dan minuman, produk rekreasi dan budaya, serta bahan bakar kendaraan.
Secara bulanan, lonjakan penjualan diperkirakan lebih tajam. BI memproyeksikan pertumbuhan mencapai 4,0 persen, seiring meningkatnya belanja masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru. Kelompok peralatan teknologi informasi dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga, serta kebutuhan pokok diprediksi menjadi penopang utama.
Perkembangan dan Arah Tekanan Harga
Dari sisi harga, Bank Indonesia melihat potensi peningkatan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Untuk Februari 2026, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tercatat naik ke level 168,6, dari sebelumnya 163,2. Kenaikan ini berkaitan dengan antisipasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Namun dalam horizon enam bulan ke depan, tekanan harga diperkirakan mereda. Pada Mei 2026, IEH diproyeksikan turun ke 154,5, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 161,7.














