Dolar AS Menguat, Sentimen Tarif Trump Mereda di Tengah Isu Greenland

JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai tukar Dolar AS kembali menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026 di pasar uang New York (atau Kamis pagi WIB). Penguatan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump disebut menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa.

Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump juga menegaskan bahwa ia menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan militer terkait isu kawasan tersebut.

Kondisi itu ikut mendorong Indeks Dolar (DXY) naik 0,12% ke posisi 98,76, sementara euro dan franc Swiss bergerak melemah.

Dolar juga menguat terhadap yen Jepang di tengah tekanan jual pada obligasi pemerintah Jepang. Sejumlah analis menilai, jika pelemahan JGBs berlanjut, pasangan USD/JPY berpotensi bergerak mendekati area yang kerap dikaitkan dengan peluang intervensi, yakni sekitar 159–160.

Pergerakan sejumlah mata uang utama tercatat sebagai berikut:

  • Euro (EUR/USD) turun 0,07% ke 1,1677.
  • Yen Jepang (USD/JPY) melemah sekitar 0,03% ke 158,34.
  • Poundsterling (GBP/USD) turun tipis 0,04% ke 1,3424.
  • Yuan China (USD/CNY) melemah 0,06% ke 6,9646 per dolar AS.

Di sisi lain, rupiah justru tampil lebih kuat. Mata uang Indonesia tercatat menguat 0,12% dan berada di level Rp16.936 per dolar AS, menjadi salah satu penguatan paling menonjol dibandingkan pergerakan mata uang lain yang cenderung tipis.

Secara umum, data tersebut menggambarkan bahwa tren penguatan dolar masih berlanjut, dengan tekanan yang tetap terasa pada berbagai mata uang, termasuk mata uang negara berkembang.