Iran Klaim Media Barat Manipulasi Data Korban Aksi Protes untuk Menekan Teheran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Iran menuding sejumlah media Barat, terutama yang dinilai berpihak pada Israel, sengaja memelintir dan membesarkan jumlah korban dalam rangkaian aksi protes di negaranya.

Tuduhan tersebut disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis malam, 23 Januari 2026.

Boroujerdi menilai pemberitaan dengan angka korban yang fantastis sengaja dibangun untuk membentuk opini bahwa pemerintah Iran adalah rezim yang kejam dan membunuh rakyatnya. Menurutnya, narasi semacam itu tidak berdasar dan sarat kepentingan politik.

“Mereka menciptakan statistik yang sangat berlebihan agar Iran dicitrakan sebagai pemerintahan pembunuh,” kata Boroujerdi.

Ia menegaskan, isu korban jiwa tersebut merupakan bagian dari agenda Barat yang memanfaatkan isu hak asasi manusia sebagai alat tekanan politik. Tujuannya, lanjut Boroujerdi, adalah untuk mendiskreditkan Iran sekaligus mendorong skenario pergantian rezim.

“Ini adalah proyek terbaru Barat, yakni menyalahgunakan isu HAM untuk menekan Iran dan membuka jalan bagi upaya makar atau perubahan pemerintahan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Boroujerdi memaparkan data resmi dari kepolisian forensik Republik Islam Iran. Berdasarkan catatan tersebut, jumlah korban jiwa dalam peristiwa terakhir mencapai 3.117 orang, dengan 2.427 di antaranya merupakan warga sipil tak bersalah serta aparat negara dan keamanan yang tengah menjalankan tugas.

Ia juga membantah tudingan bahwa aparat keamanan Iran bertindak brutal terhadap massa demonstran. Menurutnya, tindakan ekstrem seperti pembakaran, mutilasi, hingga penembakan warga sipil merupakan pola kekerasan yang hanya dilakukan oleh kelompok teroris terlatih.

“Pendekatan keji seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ISIS, musuh-musuh Iran, dan kelompok teroris yang sudah terlatih,” tegasnya.

Boroujerdi menambahkan, meningkatnya jumlah korban justru tidak menguntungkan pemerintah Iran. Sebaliknya, kondisi tersebut dinilai lebih menguntungkan kelompok teroris dan pihak-pihak asing yang memusuhi Iran.

“Banyaknya korban sama sekali bukan kepentingan pemerintah Iran, melainkan justru menguntungkan teroris dan musuh kami di luar negeri,” tutupnya.