Kontroversi Penembakan Alex Pretti: Rekaman Warga vs Pernyataan Departemen Keamanan Dalam Negeri

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kota Minneapolis, Minnesota, kembali diguncang aksi protes besar setelah seorang perawat unit perawatan intensif bernama Alex Pretti tewas ditembak oleh petugas imigrasi federal Amerika Serikat pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Insiden tragis ini terjadi di tengah operasi penegakan hukum imigrasi yang memicu bentrokan antara warga sipil dan aparat federal. Pretti, yang dikenal sebagai perawat di rumah sakit veteran, tewas dalam sebuah konfrontasi yang kini menjadi perdebatan nasional mengenai keabsahan tindakan petugas di lapangan.

Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Tricia McLaughlin, berdalih bahwa petugas melepaskan tembakan defensif karena korban dianggap melawan dan membawa senjata. Namun, narasi tersebut dibantah keras oleh pihak keluarga dan rekaman video warga yang beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, Pretti tampak hanya memegang telepon genggam saat mencoba melindungi seorang perempuan, dengan tangan kiri terangkat.

Kepala Kepolisian Minneapolis pun mengonfirmasi bahwa Pretti adalah pemilik senjata legal yang memiliki izin resmi, sehingga klaim ancaman bersenjata dari pihak federal semakin dipertanyakan.

Ketegangan di lokasi kejadian memuncak saat ratusan warga berhadapan langsung dengan petugas federal di tengah suhu ekstrem mencapai minus enam derajat Celsius.

Aparat merespons kerumunan dengan granat kejut dan tongkat, sementara Garda Nasional Minnesota dikerahkan atas perintah Gubernur Tim Walz untuk mengamankan fasilitas gedung federal.

Di tengah kedinginan tersebut, warga tetap bertahan untuk menyalakan lilin dan menyuarakan tuntutan keadilan bagi Pretti melalui poster bertuliskan Justice for Alex Pretti.

Presiden Donald Trump menanggapi situasi ini melalui media sosial dengan mengkritik keras kepemimpinan Gubernur Walz dan Wali Kota Minneapolis dari Partai Demokrat. Trump menuduh para pemimpin daerah tersebut menghasut pemberontakan melalui retorika politik mereka.

Di sisi lain, Gubernur Walz menyatakan bahwa negara bagian Minnesota tidak mempercayai penanganan otoritas federal dan akan memimpin penyelidikan mandiri secara transparan guna mengungkap kebenaran di balik kematian tragis sang perawat ICU.