JurnalPatroliNews – Jakarta – Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menyatakan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah kedaulatannya, baik udara, darat, maupun perairan, untuk aksi militer apa pun yang ditujukan kepada Iran.
Pernyataan tegas ini dirilis oleh Kementerian Luar Negeri UEA pada Selasa (27/1/2026), di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat ke kawasan Teluk.
Abu Dhabi menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memfasilitasi serangan maupun memberikan dukungan logistik bagi pihak mana pun yang berniat melakukan tindakan agresif terhadap Teheran.
Sikap UEA ini menjadi krusial mengingat Amerika Serikat menempatkan personel dan aset militernya di Pangkalan Udara Al Dhafra, yang selama ini menjadi pusat operasi penting di Timur Tengah.
Dengan adanya pengumuman ini, AS menghadapi tantangan logistik yang serius jika ingin melancarkan operasi militer dari wilayah sekutu terdekatnya tersebut.
Pemerintah UEA menekankan bahwa dialog, kepatuhan terhadap hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara adalah satu-satunya fondasi efektif untuk meredakan krisis saat ini.
Langkah UEA ini menyusul pernyataan serupa dari Arab Saudi pekan lalu. Riyadh telah menginformasikan langsung kepada Teheran bahwa wilayahnya tidak akan menjadi bagian dari tindakan militer apa pun.
Penolakan dari dua kekuatan utama ekonomi Teluk ini muncul sebagai respons atas ancaman keras Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Meskipun sempat ada sinyal de-eskalasi terkait isu demonstran di Iran, Trump mengonfirmasi bahwa persiapan militer dan pengiriman gugus tempur kapal induk ke Timur Tengah tetap berlanjut sebagai langkah berjaga-jaga.
Menanggapi penumpukan kekuatan militer AS, otoritas senior di Teheran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi skenario terburuk.
Iran memperingatkan bahwa serangan sekecil apa pun akan dianggap sebagai pernyataan perang habis-habisan. Saat ini, seluruh elemen militer Iran berada dalam status kesiagaan penuh menyambut kedatangan armada perang AS.
Dinamika ini menunjukkan pergeseran peta diplomasi di Teluk, di mana negara-negara Arab kini lebih memilih menjaga stabilitas kawasan daripada terlibat dalam konfrontasi militer langsung antara Washington dan Teheran.














