JurnalPatroliNews – Jakarta –Â Kenaikan signifikan harga emas dunia diperkirakan masih akan berlanjut hingga penghujung tahun, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang kian meluas. Situasi tersebut mendorong investor global berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke instrumen lindung nilai seperti emas.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai lonjakan harga emas saat ini tidak terlepas dari eskalasi konflik internasional yang terus berkembang. Menurutnya, ketegangan global yang semula mencuat dari isu Greenland, berlanjut ke perang Rusia–Ukraina, kini bergeser ke kawasan Timur Tengah yang dinilai jauh lebih rawan.
Ibrahim menyoroti potensi konflik terbuka di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Ancaman tersebut dinilainya memperbesar risiko geopolitik dunia sekaligus memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman di tengah gejolak global.
Selain Timur Tengah, ia juga mencermati kebijakan Amerika Serikat yang melakukan pembatasan pasokan minyak terhadap Kuba. Langkah tersebut dinilai dapat memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin, mengingat posisi Kuba sebagai negara sosialis yang memiliki hubungan panjang dan penuh friksi dengan Washington, serta dinamika politik di negara-negara sekitarnya seperti Kolombia.
Ibrahim menjelaskan bahwa akumulasi tekanan geopolitik di berbagai kawasan itulah yang menjadi pendorong utama penguatan harga emas global. Saat ini, harga emas dinilainya masih berada pada level yang relatif wajar, yakni di kisaran Rp3,4 juta per gram.
Meski demikian, ia memproyeksikan tren penguatan emas masih akan berlanjut secara bertahap hingga akhir tahun. Menurut perkiraannya, harga logam mulia berpotensi menembus level Rp4,2 juta per gram apabila ketidakpastian global terus meningkat dan konflik internasional belum mereda.














