JurnalPatroliNews – Jakarta – Kepala eksekutif perusahaan kecerdasan buatan Anthropic, Dario Amodei, menyampaikan peringatan keras terkait laju perkembangan teknologi AI yang dinilainya melampaui kesiapan umat manusia dalam mengendalikannya.
Ia menilai dunia sedang memasuki fase berbahaya, ketika kekuatan luar biasa mulai diserahkan kepada sistem kecerdasan buatan tanpa pengamanan yang memadai.
Peringatan tersebut dituangkan Amodei dalam sebuah esai panjang hampir 20 ribu kata berjudul The Teenage Years of Technology. Dalam tulisannya, ia memproyeksikan masa depan dekat di mana AI dengan kecerdasan melampaui peraih Nobel atau tokoh kenegaraan terkemuka dapat diakses secara luas hanya dalam beberapa tahun ke depan.
Amodei menjelaskan bahwa kemajuan AI saat ini bergerak sangat cepat akibat adanya mekanisme umpan balik yang saling memperkuat. AI tidak lagi sekadar hasil rancangan manusia, tetapi telah berperan aktif dalam mengembangkan sistem AI generasi berikutnya. Di Anthropic sendiri, kecerdasan buatan disebut sudah mengerjakan sebagian besar penulisan kode perangkat lunak.
“Ketika AI kini menulis mayoritas kode di Anthropic, kecepatan kami dalam mengembangkan generasi AI selanjutnya meningkat drastis,” ungkap Amodei, seperti dikutip dari RT, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia bahkan mengingatkan bahwa industri teknologi hampir mencapai titik kritis, di mana AI yang ada saat ini mampu menciptakan versi penerusnya secara otomatis, dengan keterlibatan manusia yang sangat minim.
Tanpa tata kelola yang ketat dan berhati-hati, Amodei menilai AI dapat memicu dampak serius, mulai dari gelombang pengangguran besar-besaran hingga risiko kepunahan manusia. Salah satu ancaman ekstrem yang ia soroti adalah kemungkinan terbentuknya rezim otoriter global berbasis teknologi, didukung oleh pengawasan total, propaganda otomatis, dan penggunaan senjata otonom.
Ia juga menyinggung bahaya yang disebutnya sebagai “risiko otonomi”, yakni situasi ketika sistem AI bertindak di luar kendali manusia dan mampu melampaui kemampuan pengawasnya. Ancaman ini, menurutnya, tidak harus diwujudkan melalui robot seperti dalam film fiksi ilmiah, karena banyak aksi berbahaya dapat dilakukan secara jarak jauh.
Yang paling mengkhawatirkan, lanjut Amodei, adalah potensi AI dalam menurunkan hambatan pembuatan senjata biologis dan senjata pemusnah massal.
“Orang dengan gangguan kejiwaan mungkin bisa melakukan aksi kekerasan berskala kecil, tetapi tidak akan mampu menciptakan senjata nuklir atau wabah mematikan,” tulisnya.
“Namun dengan AI canggih, siapa pun bisa diarahkan menjadi ahli virologi setingkat doktor melalui panduan terperinci,” tambahnya.
Dalam skenario terburuk, ia memperingatkan bahwa AI berkemampuan tinggi secara teoritis dapat membantu merancang patogen sintetis yang berpotensi memusnahkan kehidupan di Bumi.
Sebagai salah satu tokoh kunci di industri AI global sekaligus pesaing OpenAI, Amodei menekankan pentingnya regulasi yang tajam dan terfokus. Ia menyerukan penerapan aturan transparansi dan pengamanan teknologi sebagai langkah awal untuk mencegah risiko yang lebih besar.
“Umat manusia harus segera sadar,” tutup Amodei, seraya menegaskan bahwa beberapa tahun ke depan akan menjadi ujian penting bagi peradaban dalam mengelola kekuatan luar biasa dari kecerdasan buatan.














