MBS Telepon Presiden Iran: Wilayah Saudi Tidak Akan Jadi Basis Militer Lawan Teheran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Arab Saudi secara resmi membantah laporan sejumlah media internasional yang mengeklaim adanya pergeseran sikap politik Riyadh dalam menghadapi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Riyadh menegaskan bahwa posisi mereka tidak berubah dan tetap konsisten mengutamakan jalur diplomasi guna meredam eskalasi di kawasan. Pejabat tinggi Saudi memastikan bahwa laporan yang menyebut mereka mendorong tindakan militer AS terhadap Iran adalah tidak akurat dan tidak berdasar.

Penegasan ini muncul sebagai respons atas pemberitaan media AS, Axios, yang menyebut Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, memberikan peringatan kepada pejabat Washington di akhir Januari. Laporan tersebut mengeklaim bahwa pihak Saudi khawatir gertakan militer tanpa tindakan nyata dari Presiden Trump hanya akan membuat posisi Iran semakin kuat.

Namun, otoritas Saudi segera memberikan klarifikasi bahwa mereka tetap mendukung penuh setiap upaya yang bertujuan menemukan solusi damai melalui dialog dan komunikasi diplomatik.

Komitmen perdamaian ini diperkuat dengan pernyataan langsung Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) melalui sambungan telepon kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pekan lalu.

Dalam percakapan tersebut, MBS menjamin bahwa Arab Saudi tidak akan membiarkan wilayah maupun ruang udaranya digunakan oleh pihak mana pun untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan kuat mengenai penghormatan Arab Saudi terhadap kedaulatan negara tetangganya tersebut.

Situasi di kawasan sendiri masih diselimuti ketidakpastian seiring pengerahan aset militer AS sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran.

Meskipun sempat meluncurkan ancaman keras, Presiden Trump dilaporkan mulai melunak dan membuka peluang perundingan terkait program nuklir.

Dengan posisi Saudi yang menolak menjadi basis serangan, ruang bagi upaya deeskalasi diharapkan tetap terbuka luas demi mencegah pecahnya konflik regional yang lebih besar.