Dukungan PKB ke Prabowo Dinilai Fleksibel dan Berpotensi Berubah

JurnalPatroliNews – Jakarta – Sinyal dukungan sejumlah partai politik terhadap Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju dua periode tanpa secara eksplisit menyertakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan kalangan pengamat.

Peneliti Politika Research & Consulting (PRC), Nurul Fatta, menilai sikap tersebut mencerminkan dinamika kepentingan politik yang masih sangat cair.

Dua partai yang menonjol dalam isu ini adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Keduanya sama-sama menyuarakan dukungan terhadap Prabowo, namun datang dari latar posisi politik yang berbeda pada Pemilu 2024. PAN merupakan bagian dari koalisi Prabowo-Gibran sejak awal, sedangkan PKB sempat berada di luar barisan pendukung.

Menurut Nurul Fatta, perhatian utama justru tertuju pada langkah politik Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Ia menilai, selama ini Cak Imin dikenal sebagai figur politik yang lentur dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan konstelasi kekuasaan.

“Pola politik Cak Imin memang menarik. Saat ini ia memberi dukungan karena berada di lingkar pemerintahan. Namun jika situasi politik berubah dan tidak lagi menguntungkan, sangat mungkin sikap tersebut juga berubah,” kata Nurul kepada RMOL, Minggu, 8 Februari 2026.

Ia menambahkan, kemampuan membaca momentum menjadi keunggulan tersendiri yang membuat Cak Imin tetap bertahan dalam berbagai konfigurasi politik nasional. Dalam kondisi sekarang, posisi PKB yang telah bergabung dalam pemerintahan Prabowo membuat dukungan dua periode lebih tepat dipahami sebagai langkah strategis jangka panjang.

“Cak Imin adalah politisi yang piawai memanfaatkan peluang. Dukungan dua periode itu bisa dibaca sebagai investasi loyalitas politik, bukan sekadar pernyataan sikap sesaat,” jelasnya.

Lebih jauh, Nurul menilai langkah tersebut berkaitan erat dengan kepentingan jangka menengah hingga panjang PKB. Selain menjaga hubungan dengan kekuasaan, dukungan itu juga berfungsi mengamankan posisi dan peran politik yang telah diperoleh, sekaligus membuka peluang baru ke depan.

“Bukan hanya soal relasi kekuasaan hari ini, tetapi juga menjaga posisi-posisi strategis yang sudah ada, bahkan membuka ruang kemungkinan lain, termasuk peluang Cak Imin untuk kembali dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden pada 2029,” ujarnya.

Menurut Nurul, sinyal tersebut terlihat dari cara Cak Imin merespons pertanyaan terkait pendamping Prabowo pada periode mendatang. Ketika ditanya soal sosok calon wakil presiden, Cak Imin memilih menjawab singkat bahwa hal itu belum menjadi pembahasan.

“Jawaban seperti itu sering kali menyimpan agenda politik yang panjang,” pungkas Nurul Fatta.