JurnalPatroliNews – Jakarta — Wacana pemerintah Indonesia mengirim sekitar 8.000 personel TNI ke Jalur Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) mendapat dukungan dari Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal. Pasukan tersebut direncanakan terlibat dalam inisiatif Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna meredakan konflik berkepanjangan di Gaza.
Meski mendukung, Syamsu Rizal yang akrab disapa Deng Ical menekankan pentingnya kehati-hatian dan kesiapan menyeluruh sebelum kebijakan tersebut direalisasikan. Ia menilai pengiriman prajurit ke wilayah konflik aktif harus didahului perencanaan yang komprehensif, baik dari sisi teknis maupun strategis.
“Seluruh aspek harus dipersiapkan secara serius. Mulai dari seleksi personel TNI, mekanisme pemberangkatan, penempatan pasukan di lapangan, hingga kejelasan mandat dan tugas selama bertugas di Gaza,” ujar Deng Ical, Rabu (11/2/2026).
Ia mengingatkan bahwa kondisi keamanan di Jalur Gaza hingga kini masih sangat tidak stabil dan menyimpan risiko besar bagi keselamatan prajurit. Oleh sebab itu, keputusan pengiriman pasukan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
“Situasi di Gaza masih jauh dari aman. Ancaman terhadap personel sangat nyata, sehingga prinsip kehati-hatian harus menjadi landasan utama dalam setiap langkah pemerintah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Deng Ical menekankan bahwa keterlibatan TNI harus sepenuhnya diarahkan untuk mendukung terciptanya perdamaian jangka panjang, baik di Gaza maupun Palestina secara keseluruhan. Ia menilai tantangan di lapangan akan sangat berat, mengingat serangan dan pengeboman terhadap warga sipil masih terus terjadi.
Menurutnya, pasukan TNI diharapkan mampu menjalankan mandat perdamaian, termasuk berperan dalam melindungi warga sipil dari kekerasan. Namun, tugas tersebut berpotensi memunculkan gesekan dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam konflik.
“Ini bukan misi ringan. Upaya mencegah kekerasan terhadap warga sipil tentu memiliki risiko tinggi dan memerlukan kesiapan mental, profesionalisme, serta koordinasi yang sangat baik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa netralitas dan profesionalitas TNI harus dijaga sepenuhnya. Pasukan Indonesia harus bersikap tegas dalam menjaga stabilitas, namun tetap menghindari keterlibatan dalam konfrontasi langsung, baik dengan militer Israel maupun kelompok Hamas.
Pada akhirnya, Deng Ical menegaskan bahwa kehadiran TNI di Gaza semata-mata bertujuan untuk menjaga stabilitas dan menghentikan kekerasan terhadap masyarakat sipil.
“Orientasi utama kita adalah perdamaian. Kehadiran TNI harus menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan pengeboman, serangan, dan pembunuhan warga sipil di Gaza,” tutupnya.














