JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Indonesia tetap solid di tengah perlambatan ekonomi global. Paparan tersebut ia sampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Wisma Danantara Indonesia, Jumat (13/2/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia saat ini cenderung melambat dan bertahan di kisaran 3 persen. Proyeksi tersebut, menurutnya, sejalan dengan perkiraan sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund, World Bank, dan OECD, yang bahkan memprediksi perlambatan lebih lanjut pada 2026.
“Di tengah tantangan global, ekonomi dunia stagnan di sekitar 3 persen. Bahkan tahun depan diperkirakan berada di rentang 2,9 hingga 3,1 persen,” ungkap Airlangga.
Dari sisi perdagangan global, pertumbuhan juga diperkirakan melemah hingga sekitar 2,4 persen. Namun, di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru menunjukkan performa yang menonjol. Airlangga menegaskan bahwa pada kuartal IV-2025, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara negara-negara G20, tepat di bawah India.
“Untuk kuartal keempat, Indonesia berada di peringkat dua di G20, setelah India yang tumbuh 7,4 persen,” tegasnya.
Sepanjang 2025, perekonomian nasional tumbuh 5,11 persen secara tahunan, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama yang meningkat 4,98 persen. Menurut Airlangga, capaian ini mencerminkan efektivitas stimulus ekonomi, stabilitas harga pangan, serta meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru.
Ia juga menyoroti fenomena unik berupa perayaan hari besar keagamaan yang berlangsung berurutan pada kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026. Momentum Idulfitri di awal 2026 diharapkan kembali mendorong pertumbuhan ekonomi, sebagaimana pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya.
“Ini pertama kalinya kuartal empat dan kuartal satu dipenuhi hari besar keagamaan secara berurutan. Biasanya, saat Lebaran, pertumbuhan ekonomi melonjak, dan itu yang terus kita dorong di awal tahun ini,” jelasnya.
Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga dan organisasi kemasyarakatan tumbuh 5,13 persen, dipicu oleh aktivitas sosial dan respons kebencanaan. Dari sisi investasi, pertumbuhan tercatat sebesar 5,09 persen, sementara belanja modal pemerintah melonjak tajam hingga 44,2 persen.
Airlangga berharap dorongan belanja pemerintah tersebut terus berlanjut pada kuartal pertama 2026 melalui kebijakan fiskal yang ekspansif. Menurutnya, belanja negara berperan penting sebagai penopang permintaan domestik sekaligus peredam dampak perlambatan ekonomi global. Pada kuartal IV-2025, komponen ini tumbuh 4,55 persen.
Kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 7,03 persen, didukung kenaikan nilai dan volume pengiriman barang ke luar negeri. Sektor pariwisata turut berkontribusi, tercermin dari kenaikan kunjungan wisatawan sebesar 10 persen pada akhir 2025.
Sepanjang tahun 2025, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan, meningkat 17,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi sektoral, pertanian tumbuh 5,03 persen, ditopang produksi pangan yang kuat dan berkontribusi pada stabilitas harga.
Sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,3 persen berkat kuatnya permintaan domestik, ekspor, dan program hilirisasi. Sementara itu, sektor transportasi, pergudangan, akomodasi, serta makanan dan minuman bahkan melesat di atas 7 persen seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas wisata.
Airlangga menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut berjalan seiring dengan perbaikan indikator sosial. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, rasio gini membaik ke level 0,36, dan tingkat pengangguran terbuka menurun menjadi 4,74 persen.
Selain itu, realisasi investasi berhasil menciptakan tambahan lapangan kerja bagi sekitar 2,71 juta orang. “Ini menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi juga diikuti oleh peningkatan pemerataan kesejahteraan,” tutup Airlangga.














