Iran Gelar Latihan Militer 24 Jam di Selat Hormuz Jelang Perundingan Nuklir dengan AS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menggelar latihan militer intensif selama 24 jam di Selat Hormuz.

Mengutip laporan Anadolu News, Selasa (17/2/2026), latihan berlangsung di jalur pelayaran vital dunia yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, hanya beberapa saat sebelum dimulainya kembali perundingan nuklir antara Teheran dan Washington.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menyatakan latihan dilakukan bersamaan dengan pengawasan intelijen terpadu lintas matra udara, laut, dan darat di kawasan tersebut.

Ia menegaskan bahwa operasi ini bertujuan menjamin keselamatan pelayaran internasional, mengingat lebih dari 80 kapal tanker minyak dan kapal kontainer melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Latihan juga mencakup wilayah perairan di sekitar pulau-pulau strategis yang oleh Iran disebut sebagai benteng pertahanan. Tangsiri menekankan perlindungan kawasan tersebut merupakan tanggung jawab Angkatan Laut IRGC, yang secara rutin menggelar latihan tahunan guna menjaga stabilitas keamanan regional.

Menurutnya, latihan tahun ini menonjol karena melibatkan manuver taktis serta penggunaan sejumlah peralatan baru yang sebagian belum pernah diperkenalkan secara resmi kepada publik.

Latihan bertajuk “Smart Control of the Strait of Hormuz” itu digelar di bawah pengawasan langsung Panglima IRGC, Mohammad Pakpour. Program tersebut bertujuan menguji kesiapan operasional unit angkatan laut, mengevaluasi berbagai skenario keamanan, serta menilai keunggulan geopolitik Iran di kawasan perairan strategis tersebut.

Manuver militer ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat setelah pengerahan armada militer AS ke kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana pengiriman kapal induk tambahan, menyusul keberadaan USS Abraham Lincoln beserta armada kapal perusak yang telah lebih dulu ditempatkan di kawasan tersebut.

Meski tensi meningkat, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan kembali melanjutkan perundingan nuklir di Geneva, Selasa waktu setempat (17/2/2026), dengan mediasi Oman. Sebelumnya, diplomasi tidak langsung antara kedua negara sempat digelar di Muscat.

Perundingan ini menjadi momentum penting setelah negosiasi sempat terhenti selama delapan bulan akibat konflik militer antara Iran dan Israel, yang memicu perang singkat selama 12 hari dan memperburuk stabilitas kawasan.