JurnalPatroliNews – Jakarta – Fenomena perubahan nama rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo menjadi “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps diperkirakan dapat menimbulkan efek politik, termasuk terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pengamat dari Citra Institute, Efriza, menilai ramainya penyebutan tersebut di media sosial merupakan bentuk kritik satire publik terhadap Jokowi.
Ia mengamati, setelah purnatugas sebagai presiden, rumah Jokowi di Solo kerap ramai didatangi masyarakat dari berbagai daerah, baik untuk menyampaikan aspirasi maupun sekadar berfoto. Fenomena itu, menurutnya, memicu ekspresi satire di ruang digital.
“Ekspresi satire publik diyakini ke depannya bukan hanya seperti ‘Tembok Ratapan Solo’ saja. Ekspresi ini dilakukan untuk memberikan kesan dan efek citra negatif terhadap Jokowi dan keluarganya,” ujar Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu (22/2/2026).
Efriza menilai dampak politik bisa merembet ke PSI, terlebih Jokowi telah menyatakan akan aktif membantu menggalang suara bagi partai tersebut menuju Pemilu 2029.
Menurut dia, jika narasi negatif terhadap Jokowi terus diproduksi dan meluas, citra PSI berpotensi ikut terdampak. Apalagi, hubungan keduanya dinilai sangat erat karena Ketua Umum PSI saat ini adalah putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.
“Jika diproduksi dengan banyak, tentunya akan memberi dampak buruk terhadap PSI. Popularitas PSI ikut terpengaruh negatif atas ekspresi publik terhadap Jokowi, bahkan dapat mengganggu upaya peningkatan elektabilitas PSI,” ujarnya.
Ia menambahkan, kedekatan PSI dengan Jokowi dan keluarganya membuat persepsi publik terhadap mantan presiden tersebut berpotensi ikut memengaruhi penilaian terhadap partai.
“PSI telah mengkultuskan Jokowi. Hubungan erat antara PSI dengan Jokowi dan keluarganya akan menghadirkan keterhubungan dampak dari ekspresi kecewa dan jengahnya publik kepada Jokowi, yang otomatis akan merembes pula kepada PSI,” pungkas Efriza.














