Implosi Politik yang Mengarah ke Pemilu 2029: Prabowo dan Gerindra Bersama Jokowi dan PSI

Oleh: Andre Vincent Wenas

Benar kata Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang pernah bilang bahwa, “Peran Pak Jokowi itu sangat sentral, kalau beliau sampai berpihak pada sesuatu, ya game is over!”. Istilahnya jari telunjuk Jokowi menentukan arah perpolitikan bangsa, kemana jari itu mengarah maka ke titik itu pulalah para politisi bangsa berkiblat.

Akhir-akhir ini kita mendengar dan membaca di banyak lini masa, rombongan politisi senior dari berbagai partai politik mulai log-in (bergabung) dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Padahal partai ini belum ada di parlemen pusat (DPR RI), walau di parlemen daerah (tingkat provinsi maupun kabupaten/kota) sudah banyak.

Kalau ditanya kenapa? Jawaban mereka mirip-mirip, karena di PSI ada Pak Jokowi. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah Jokowi sudah bergabung denga PSI? Jawabannya, secara resmi (formal) belum. Tapi secara non-formal semua sudah tahu sama tahu, beliau sudah bekerja keras dan bakal mati-matian buat PSI. Dan statement itu sudah lebih dari cukup buat para politisi kawakan untuk berkiblat ke PSI.

Bukan hanya di cabang legislatif tapi juga dari kecabangan eksekutif. Banyak mantan gubernur, bupati dan walikota yang sowan ke gang Kutai Utara di Solo lalu mendeklarasikan diri bergabung dengan PSI. Mereka punya keyakinan bahwa lebih baik berlayar bersama perahu yang sedang menuju masa depan dari pada naik perahu bocor yang selalu berlayar ke masa lalu yang usang.

Wacana di internal PSI, walau secara formal (de-jure) belum resmi dideklarasikan, namun posisi formal yang disediakan untuk beliau adalah Ketua Dewan Pembina. Jadi walau secara “de-jure” belum bergabung dengan PSI tapi secara “de-facto” eksistensi politik Jokowi adalah PSI.

“Saya akan bekerja keras dan mati-matian untuk PSI,” begitu ujar Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar baru-baru ini. Begitu pun dalam Kongres PSI di Solo beberapa bulan lalu. PSI telah menjadi kendaraan politik “de-facto” dari tokoh politik nasional yang masih punya “approval-rating” sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh persen pasca lengser dari jabatan presiden lebih dari setahun yang lampau.

Ini rating yang sangat tinggi bagi seorang mantan presiden yang sudah setahun lebih meninggalkan kursi kepresidenan. Jasanya dalam menanggulangi bencana global Covid-19 yang tidak ada referensinya di dunia telah meninggalkan memori yang mendalam di benak sanubari anak manusia. Banyak pemimpin dunia yang angkat topi atas kebijakan Indonesia kala itu.

Jejak sejarah politik Jokowi tercetak terlalu jelas di seluruh negeri, infrastruktur yang dibangunnya telah menyatukan Nusantara, sebagai bukti bahwa faham pembangunan (developmentalisme) beliau adalah Indonesia-sentris. Berbagai jalan nasional (termasuk jalan tol) dibangun untuk melancarkan aliran di nadi perekonomian nasional.

Banyak kasus kebakaran hutan dipadamkan sampai ke akarnya, bukan cuma formalitas saat presiden hadir, tapi tatkala Jokowi kembali ke lokasi kebakaran saat semua sudah bubar membuat aparat dibawahya jadi sungguh-sungguh bekerja dan tidak bisa main-main lagi.

Tatkala bekunjung ke daerah ditemani gubernur setempat Jokowi malah memilih rute jalan yang diluar jalur protokoler, melewati jalanan propinsi yang rusak dan berlubang-lubang, membuat gubernurnya tersipu malu, namun membuat citra Jokowi sebagai presiden dan pro-rakyat malah semakin moncer.

Bendungan-bendungan dibangun, kilang minyak di Balikpapan dibangun melawan kepentingan para mafia migas menyusul pembubaran Petral, ekspor bahan mentah dilarang demi mendukung program hilirisasi, dan substitusi impor digencarkan demi mendukung industri dalam negeri. Ekonomi hitam (shadow-economy) secara bertahap ditransfer ke neraca negara yang formal, tidak gampang memang tapi klarifikasi ke arah itu tak surut meski gelombang retaliasi kaki tangan mafia ekonomi terus menerpa.

Di bidang sosial-politik, isu fundamentalisme telah redup dan bahkan mati. FPI dan HTI dibubarkan dan tidak lagi jadi anjing peliharaan politisi oportunis tertentu yang terus menerus menggonggong dan jadi lintah darat di negeri ini. Semua masih ingat bagaimana Jokowi tampil dengan berani persis di tengah-tengah lautan demontrasi 212 yang diinisiasi FPI dulu.

Semua prestasi sosial-politik-ekonomi Jokowi selama dua periode kepresidenannya menjadi magnet politik yang tak bisa disangkal lagi daya tariknya. Disamping tentunya kenyataan bahwa Jokowi adalah presiden yang mampu membangun koalisi besar yang bisa mendukung segala bebijakan ekonomi-politiknya.