JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Amerika Serikat meningkatkan tekanan militernya terhadap Iran dengan mengerahkan kekuatan besar ke kawasan Timur Tengah di tengah memanasnya ketegangan kedua negara.
Laporan Financial Times menyebut Washington telah mengumpulkan 16 kapal perang, sekitar 40.000 personel militer, serta sedikitnya tujuh sayap udara tempur di wilayah tersebut. Pengerahan ini mencakup kehadiran armada laut yang luas serta penguatan signifikan kemampuan udara di sejumlah pangkalan strategis.
Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa Gedung Putih tengah menyiapkan opsi militer serius, meski jalur diplomasi disebut masih terbuka.
Presiden Donald Trump menyatakan dirinya akan mengambil keputusan dalam 10 hingga 15 hari ke depan terkait langkah terhadap Teheran, apakah melanjutkan diplomasi atau melakukan aksi militer.
“Sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump seperti dikutip dari Axios, Senin (23/2/2026).
Klaim Bocoran Serangan
Sementara itu, jurnalis sekaligus whistleblower AS John Kiriakou mengungkap bahwa seorang mantan perwira CIA di Gedung Putih menyebut Trump telah memutuskan menyerang Iran pada awal pekan ini.
“Ia mengatakan bahwa keputusan telah dibuat untuk menyerang Iran pada hari Senin atau Selasa,” kata Kiriakou dalam cuplikan video di platform X, Minggu (22/2/2026).
Penguatan Kekuatan Udara
Secara operasional, AS sebelumnya mempertahankan lima sayap udara—masing-masing terdiri dari sekitar 70 pesawat—di pangkalan yang tersebar di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Kini, dua sayap udara tambahan ditempatkan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, yang memperluas jangkauan tempur Washington di sekitar Iran.
Data yang dikutip dari Universitas Tel Aviv menunjukkan pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania menampung sedikitnya 66 jet tempur, termasuk 18 F-35, 17 F-15, dan delapan A-10, serta pesawat perang elektronik EA-18 dan pesawat angkut.
Citra satelit juga memperlihatkan peningkatan jumlah jet tempur di pangkalan udara Arab Saudi, menandakan ekspansi signifikan jejak militer AS di kawasan Teluk di tengah bayang-bayang potensi konflik terbuka dengan Iran.













