JurnalPatroliNews – Jakarta -Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki hari ketujuh pada Jumat (6/3/2026) dengan intensitas yang semakin meluas. Israel secara resmi mengumumkan dimulainya fase baru operasi militer yang ditandai dengan serangan udara besar-besaran ke wilayah selatan Beirut, Lebanon.
Langkah ini diambil setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi seluruh warga sipil di ibu kota Lebanon tersebut.
Pengumuman evakuasi tersebut memicu kepanikan massal di berbagai titik di Beirut. Ribuan warga berupaya menyelamatkan diri setelah Israel menegaskan bahwa area tersebut kini menjadi target operasi militer aktif.
Perluasan front pertempuran ke Lebanon menandakan fase baru dalam konflik yang awalnya terfokus pada wilayah Iran.
Dampak peperangan kini mulai merembet ke luar kawasan Timur Tengah. Di Samudra Hindia, tepatnya di lepas pantai Sri Lanka, dilaporkan terjadi kontak senjata di mana kapal selam Amerika Serikat menembak kapal perang milik Iran.
Sementara itu, ketegangan juga pecah di wilayah Kaukasus setelah serangan drone misterius menargetkan infrastruktur bandara di Azerbaijan.
Di tengah kecamuk senjata, konstelasi politik mulai memanas terkait suksesi kepemimpinan di Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan niatnya untuk mengintervensi proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru guna menggantikan Ali Khamenei yang tewas pada Sabtu (28/2/2026).
Trump secara tegas menolak pencalonan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Khamenei, yang selama ini dianggap sebagai kandidat terkuat.
Menurut laporan kantor berita AFP, Trump menginginkan sosok pemimpin baru yang dianggap mampu membawa harmoni dan perdamaian di kawasan, ketimbang meneruskan garis politik keluarga Khamenei.
Pernyataan ini dinilai sebagai campur tangan diplomatik yang sangat agresif di tengah situasi transisi yang rentan di Iran.
Hingga saat ini, dampak kemanusiaan akibat konflik terus meningkat. Sebuah lembaga swadaya masyarakat di Iran melaporkan jumlah korban jiwa di pihak mereka telah mencapai 1.230 orang, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengonfirmasi enam personel tentara mereka tewas dalam operasi penyerbuan ke wilayah Iran sejak awal konflik pecah.












