JurnalPatroliNews – Jakarta – Kontroversi yang kerap muncul dari kebijakan dan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai tidak hanya berdampak pada dinamika politik global, tetapi juga menciptakan peluang keuntungan di pasar keuangan.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai berbagai langkah kebijakan Trump sering memicu volatilitas pasar yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk meraih keuntungan dari selisih harga atau capital gain.
Menurut Yanuar, salah satu contoh terlihat ketika Trump mengumumkan kebijakan tarif impor yang sempat mengguncang pasar keuangan global.
“Begitu dia mengumumkan tarif, semua pasar keuangan dunia bergejolak turun. Lalu di tengah-tengah dia bilang dipause, begitu dipause pasar kembali naik,” kata Yanuar, Sabtu (7/3/2026).
Ia menilai situasi tersebut menciptakan momentum bagi pelaku pasar yang mampu membaca arah pergerakan harga secara cepat. Fluktuasi yang tinggi dianggap membuka peluang keuntungan bagi investor maupun trader.
Yanuar juga menyinggung pertemuan Trump dengan sejumlah pengelola hedge fund di Oval Office yang sempat memicu tudingan dari kubu Partai Demokrat Amerika Serikat terkait dugaan praktik insider trading.
“Dari kubu Partai Demokrat mengatakan insider trading dilakukan oleh Trump, karena Trump seolah-olah menciptakan informasi lalu bertemu dengan beberapa hedge fund dan mempublikasikannya di akun X miliknya. Tetapi Kongres Amerika Serikat juga tidak membentuk pansus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yanuar menilai fenomena tersebut perlu dilihat secara lebih komprehensif dengan membedakan antara dinamika politik yang penuh kontroversi dan realitas ekonomi yang terjadi di masyarakat.
Berdasarkan data yang pernah ia olah hingga 2022, Yanuar menyebut semakin banyak warga Amerika Serikat yang mengandalkan keuntungan dari transaksi aset keuangan, terutama dari selisih harga atau capital gain.
Menurutnya, tren tersebut tercermin dari meningkatnya kepemilikan aset keuangan masyarakat, baik melalui investasi pada hedge fund maupun investasi langsung di pasar saham.
“Data yang saya olah sampai 2022 menunjukkan orang Amerika semakin mengandalkan pendapatannya dari capital gain. Ada yang melalui hedge fund, ada juga masyarakat biasa yang berinvestasi langsung di pasar saham,” tuturnya.
Sebagian masyarakat bahkan menjadikan aktivitas perdagangan saham sebagai sumber penghasilan utama setelah memiliki tabungan dari pekerjaan mereka.
“Misalnya mereka bekerja, menabung, lalu setelah itu tidak lagi mengandalkan gaji, tetapi menjadi pemain saham. Istilahnya trading for living, menjadi trader untuk kehidupan,” jelasnya.
Yanuar menilai fenomena tersebut membuat banyak pelaku pasar di Amerika Serikat lebih mengandalkan analisis teknikal karena membutuhkan arus kas yang cepat dari pergerakan harga.
Akibatnya, volatilitas pasar justru menjadi kondisi yang dinikmati oleh sebagian pelaku ekonomi.
“Terlepas dari kontroversi Trump terhadap nilai-nilai masyarakat Amerika, faktanya banyak orang Amerika juga menikmati permainan isu yang muncul dari Trump. Tanpa isu, tidak mungkin ada volatilitas yang tinggi di pasar,” pungkasnya.













