JurnalPatroliNews – Jakarta – Suhu udara di Jakarta terasa lebih panas dari biasanya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini bahkan dirasakan warga sejak pagi hingga malam hari, dengan cuaca yang lebih terik dan gerah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Fenomena tersebut memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat terkait penyebab meningkatnya suhu di wilayah ibu kota. Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor meteorologis yang memicu kenaikan suhu udara di Jakarta dan sekitarnya.
Mengutip keterangan resmi BMKG, kondisi cuaca yang terasa lebih panas dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan serta dominasi cuaca cerah dalam beberapa hari terakhir. Ketika langit relatif cerah tanpa banyak awan, radiasi matahari dapat mencapai permukaan bumi secara lebih maksimal.
Akibatnya, panas matahari lebih banyak diserap oleh permukaan tanah, bangunan, dan jalanan. Kondisi ini membuat suhu udara terasa meningkat, terutama di kawasan perkotaan seperti Jakarta. Selain itu, intensitas penyinaran matahari yang tinggi turut mempercepat proses pemanasan permukaan bumi.
BMKG juga menyebut faktor dinamika atmosfer global turut berperan dalam fenomena tersebut. Salah satunya adalah pergerakan Madden–Julian Oscillation (MJO) yang sebelumnya berada di sekitar wilayah Indonesia dan kini bergerak ke arah timur.
Pergerakan MJO itu menyebabkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya berkurang, sehingga cuaca cerah menjadi lebih dominan.
Selain itu, melemahnya Monsun Asia juga ikut memengaruhi kondisi cuaca. Monsun Asia biasanya membawa massa udara lembap dari kawasan Samudra Pasifik dan Laut Cina Selatan yang membantu pembentukan awan hujan di Indonesia.
Namun ketika monsun tersebut melemah, suplai udara lembap berkurang sehingga peluang terbentuknya awan hujan juga menurun. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat suhu udara di Jakarta terasa lebih panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Selain faktor atmosfer, karakter wilayah perkotaan dengan dominasi bangunan beton dan aspal juga memperkuat efek panas. Permukaan tersebut cenderung menyerap dan memantulkan panas lebih besar dibandingkan area dengan vegetasi.
BMKG juga memprediksi musim kemarau pada 2026 berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Sebagian besar daerah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap pada periode April hingga Juni 2026.
Awal musim kemarau diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara sebelum kemudian meluas ke berbagai wilayah lain di Tanah Air dalam beberapa bulan berikutnya.














