JurnalPatroliNews – Jakarta — Pernyataan Presiden Donald Trump terkait konflik di Selat Hormuz dinilai tidak konsisten dan mencerminkan tekanan besar yang dihadapi Amerika Serikat, baik dari sisi militer maupun dampak ekonomi global.
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai perubahan sikap Trump—mulai dari terkesan tidak peduli hingga mengeluarkan ultimatum—menunjukkan keraguan Washington untuk bertindak sendiri dalam konflik tersebut.
“Ini bentuk kegalauan Trump, ternyata Iran tidak takut dengan ancaman Trump. Dan juga ini bentuk Trump juga pengecut,” ujar Faisal dalam keterangan daring, Senin (23/3/2026).
Menurutnya, perubahan sikap tersebut dipicu oleh tidak adanya respons signifikan dari Iran terhadap ancaman AS, sementara risiko keterlibatan militer dinilai sangat tinggi.
Faisal menjelaskan, pada awalnya AS berencana mengirim kapal perang untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, rencana tersebut tidak berjalan karena angkatan laut AS dinilai tidak siap menghadapi potensi konflik langsung.
“Tapi ternyata angkatan laut AS sendiri tidak berani karena risikonya sangat tinggi kalau mereka ikut mengawal itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, upaya AS untuk melibatkan sekutu juga belum mendapat respons kuat, baik dari negara-negara Eropa maupun anggota NATO.
Di sisi lain, tekanan domestik di AS disebut semakin meningkat, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak dan bahan bakar apabila jalur strategis tersebut terganggu.
Sementara itu, muncul pernyataan bersama dari 22 negara yang menyatakan kesiapan menjaga Selat Hormuz. Namun, Faisal menilai komitmen tersebut masih perlu diuji dalam implementasi di lapangan.
“Nah, kalau memang benar itu yang mereka akan lakukan, komitmen itu mereka laksanakan nanti, artinya perang akan semakin berkobar, perang akan semakin tidak terkendali, dan itu akan melibatkan banyak negara,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika keterlibatan militer dari berbagai negara benar-benar terjadi, maka konflik berpotensi meluas dan semakin sulit dikendalikan.














