JurnalPatroliNews – ABU DHABI – Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan diam-diam kembali mengirim minyak mentah melalui Selat Hormuz dengan menggunakan metode tersembunyi, termasuk mematikan alat pelacak kapal tanker agar tidak terdeteksi dan terhindar dari potensi serangan Iran.
Menurut laporan Reuters yang dikutip pada Jumat (8/5/2026), sedikitnya empat kapal tanker berhasil membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah jenis Upper Zakum dan Das keluar dari Teluk Persia sepanjang April 2026.
Pengiriman tersebut dilakukan oleh perusahaan minyak nasional UEA, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, langkah UEA ini berbeda dengan sejumlah negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, dan Qatar yang memilih menghentikan penjualan atau memangkas harga demi menarik pembeli.
Sementara itu, Arab Saudi lebih banyak mengalihkan jalur pengiriman minyak melalui Laut Merah guna menghindari risiko keamanan di Selat Hormuz.
Reuters menyebut ADNOC terpaksa memangkas ekspor lebih dari 1 juta barel per hari sejak perang dimulai. Sebelum konflik memanas, UEA diketahui mengekspor sekitar 3,1 juta barel minyak per hari.
Untuk menghindari pemantauan Iran, kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak UEA berlayar dengan sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS) dalam kondisi dimatikan.
Metode ini membuat pergerakan kapal sulit terlacak dan selama ini juga kerap digunakan Iran untuk menghindari sanksi ekspor minyak dari Amerika Serikat.
Salah satu kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC), Hafeet, diketahui memuat 2 juta barel minyak Upper Zakum pada 7 April dan berhasil keluar dari Selat Hormuz pada 15 April.
Setelah keluar dari kawasan selat, muatan minyak tersebut dipindahkan ke kapal tanker berbendera Yunani bernama Olympic Luck sebelum akhirnya dikirim ke kilang Pengerang di Malaysia.
ADNOC juga diketahui menggunakan metode transfer kapal ke kapal atau ship-to-ship (STS), yakni memindahkan minyak ke kapal lain agar muatan dapat dipecah menjadi volume yang lebih kecil.
Strategi ini dinilai memudahkan penjualan ke pembeli di Asia sekaligus memungkinkan kapal tanker utama kembali lebih cepat ke Teluk untuk mengambil muatan baru.
Sumber Reuters menyebut salah satu pengiriman minyak Upper Zakum bahkan terjual dengan premi sangat tinggi, mencapai 20 dolar AS per barel di atas harga resmi ADNOC.
Hal ini menunjukkan bahwa pembeli tetap bersedia membayar mahal demi mendapatkan pasokan minyak di tengah gangguan rantai pasok akibat perang.
Selain Malaysia, sebagian minyak UEA juga dikirim ke Korea Selatan dan sebagian lainnya disimpan sementara di terminal Ras Markaz, Oman.
Dua kapal tanker jenis Suezmax juga terdeteksi membawa masing-masing 1 juta barel minyak menuju Korea Selatan setelah berhasil melewati Selat Hormuz.
Meski demikian, risiko pengiriman tetap sangat tinggi. Pada awal pekan ini, UEA menuduh Iran menggunakan drone untuk menyerang kapal tanker kosong ADNOC bernama Barakah saat melintasi Selat Hormuz.
Meski situasi penuh ancaman, ADNOC disebut tetap berencana melanjutkan penjualan minyak dari wilayah Teluk dan telah memberi tahu sejumlah pembeli di Asia bahwa pengiriman minyak Das dan Upper Zakum untuk Mei tetap dapat dilakukan melalui transfer kapal di luar Teluk, termasuk di Fujairah dan Sohar, Oman.














