Ghalibaf Muncul sebagai Figur Kunci di Balik Strategi Perang Iran


JurnalPatroliNews – TEHERAN — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kini disebut-sebut sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ghalibaf, yang juga merupakan veteran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), telah berada di lingkar kekuasaan Iran selama hampir tiga dekade. Berbeda dengan banyak elite politik Iran yang berasal dari kalangan ulama, ia dikenal sebagai salah satu figur sipil non-ulama yang menonjol dalam sistem politik negara tersebut.

Di usia 64 tahun, peran Ghalibaf dinilai semakin strategis, terutama dalam merumuskan arah kebijakan dan strategi Iran di tengah situasi perang. Ia juga menjadi salah satu tokoh yang paling aktif tampil di ruang publik.

Ketika sejumlah tokoh lain seperti Mojtaba Khamenei jarang muncul dan lebih banyak menyampaikan pernyataan tertulis, Ghalibaf justru aktif melalui media, wawancara, hingga platform digital.

Dalam pernyataan terbarunya, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tengah menghadapi “perang yang tidak seimbang” dan membutuhkan pendekatan strategi yang kreatif serta mandiri. Ia juga menyoroti bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran telah membuka fase baru dalam konflik.

Ghalibaf menegaskan, prinsip balasan menjadi bagian dari strategi yang akan diambil Teheran.

Menanggapi ultimatum Presiden Donald Trump yang memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, Ghalibaf menyampaikan peringatan keras.

“Begitu pembangkit listrik dan infrastruktur kami diserang, seluruh infrastruktur energi dan minyak di kawasan akan menjadi target sah dan akan dihancurkan secara permanen,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/3/2026).

Meski vokal, Ghalibaf dinilai tetap berhati-hati terkait keamanan dirinya. Ia tidak selalu tampil langsung dalam sejumlah aksi publik besar, berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya, yang menunjukkan tingginya risiko terhadap posisinya saat ini.

Selain latar belakang militernya, Ghalibaf juga memiliki kemampuan sebagai pilot dan pernah menyatakan mampu menerbangkan pesawat berbadan besar. Kombinasi pengalaman militer, politik, dan kepemimpinan tersebut membuatnya dipandang sebagai salah satu sosok kunci yang mengawasi jalannya strategi perang Iran saat ini.