Bobibos Jadi Alternatif Energi di Tengah Ancaman Krisis Global


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran akan krisis energi global. Pembatasan pergerakan kapal di Selat Hormuz berdampak pada terganggunya pasokan minyak serta lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara, termasuk Indonesia, mulai mempertimbangkan langkah efisiensi energi seperti penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH). Namun, kebutuhan akan sumber energi alternatif dinilai semakin mendesak.

Salah satu inovasi yang mulai dilirik adalah Bahan Bakar Original Buatan Indonesia (BOBIBOS), energi alternatif berbasis bioenergi yang dikembangkan dari jerami. Inovasi ini digagas oleh M. Ikhlas Thamrin bersama timnya setelah melalui riset selama lebih dari satu dekade.

BOBIBOS diklaim memiliki kualitas setara bahan bakar dengan RON 98 atau sekelas Pertamax Turbo, dengan keunggulan ramah lingkungan karena disebut mampu menekan emisi hingga mendekati nol.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Mulyadi, menilai pengembangan BOBIBOS berpotensi menjadi bagian penting dalam roadmap transisi energi nasional berbasis bioenergi.

Menurutnya, kehadiran bahan bakar alternatif ini dapat membantu masyarakat melalui harga yang lebih terjangkau dengan kualitas yang kompetitif.

“Masyarakat terbantu, murah dan berkualitas, dengan biaya produksi kurang dari Rp5.000 per liter,” ujar Mulyadi, Minggu (29/3/2026).

Selain itu, pengembangan BOBIBOS juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani, mengingat bahan baku utama berasal dari jerami. Dengan luas lahan sawah Indonesia yang mencapai sekitar 11 juta hektare, potensi produksi energi berbasis jerami dinilai sangat besar tanpa perlu melakukan alih fungsi hutan.

“Petani meningkat pendapatannya. Tidak perlu alih fungsi hutan,” tambahnya.

Lebih jauh, penggunaan BOBIBOS diyakini dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak, sehingga berkontribusi pada efisiensi anggaran negara sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Anggaran negara lebih hemat karena mengurangi impor dan alam lebih bersih karena sumber nabati hampir zero emisi,” ungkapnya.

Mulyadi juga menyebut pengembangan industri BOBIBOS berpotensi membuka lapangan kerja baru serta mendorong kemandirian energi nasional.

“Indonesia menjadi mandiri energi,” tegasnya.

Sebagai pembina proyek tersebut, Mulyadi mengungkapkan bahwa BOBIBOS direncanakan akan diluncurkan perdana pada April 2026 di Timor Leste. Negara tersebut disebut telah menyatakan komitmen dalam memberikan dukungan regulasi, investasi, dan proteksi terhadap pengembangan energi tersebut.

Setelah peluncuran di Timor Leste, ekspansi pasar disebut akan berlanjut ke sejumlah negara lain seperti Vietnam, Malaysia, hingga Norwegia.

Namun demikian, Mulyadi mengakui bahwa implementasi BOBIBOS di dalam negeri masih menghadapi kendala regulasi. Hingga kini, Indonesia dinilai belum memiliki payung hukum yang memadai untuk mendukung pengembangan energi alternatif tersebut.

“Indonesia belum ada regulasi, sementara bisnis energi perlu payung hukum karena padat modal dan padat karya,” pungkasnya.