IEA: Pemulihan Produksi Energi Timur Tengah Diperkirakan Butuh Dua Tahun


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pemulihan sektor energi di kawasan Timur Tengah pascakonflik diperkirakan tidak akan berlangsung cepat. International Energy Agency (IEA) memperkirakan normalisasi produksi minyak dan gas di kawasan tersebut membutuhkan waktu hingga dua tahun.

Kepala IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa durasi pemulihan akan berbeda di tiap negara, tergantung pada tingkat kerusakan infrastruktur energi akibat konflik.

“Di Irak, misalnya, proses pemulihan akan memakan waktu lebih lama dibandingkan Arab Saudi. Namun secara keseluruhan, kami memperkirakan sekitar dua tahun untuk kembali ke tingkat produksi sebelum perang,” ujarnya dalam wawancara dengan harian Neue Zürcher Zeitung yang dikutip Reuters, Sabtu (18/4/2026).

Birol menilai pasar selama ini cenderung meremehkan dampak jangka panjang dari gangguan distribusi energi, khususnya akibat penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute vital distribusi energi global.

Menurutnya, pasokan energi sempat bertahan karena pengiriman yang telah dilakukan sebelum konflik memuncak. Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah seiring menipisnya cadangan.

“Tidak ada kapal tanker baru yang dimuat sepanjang Maret. Tidak ada pengiriman baru minyak, gas, atau bahan bakar ke pasar Asia. Kesenjangan pasokan ini mulai terlihat,” jelasnya.

Ia memperingatkan, jika Selat Hormuz tidak segera kembali dibuka secara penuh, maka pasar global harus bersiap menghadapi lonjakan harga energi yang lebih tinggi.

Terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat, Birol menegaskan bahwa IEA siap mengambil langkah cepat jika situasi memburuk. Kebijakan serupa sebelumnya telah dilakukan pada Maret lalu untuk menjaga stabilitas pasokan.

“Kami belum sampai pada tahap itu, tetapi opsi tersebut jelas sedang dipertimbangkan,” ujarnya.

Situasi ini menegaskan bahwa konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi global dalam jangka menengah hingga panjang.