Lonjakan Harga Avtur Ancam Operasional Maskapai Penerbangan


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Dampak konflik di Timur Tengah mulai merembet ke sektor penerbangan nasional. Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) disebut berpotensi mengganggu keberlangsungan operasional maskapai jika tidak diimbangi dengan penyesuaian tarif.

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengungkapkan, harga avtur untuk rute domestik mengalami kenaikan hingga 72,45 persen. Sementara itu, untuk rute internasional, lonjakannya bahkan mencapai 80,32 persen.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada struktur biaya operasional maskapai. Alvin menyebut, biaya operasional kini meningkat sekitar 25 hingga 35 persen, tergantung pada model bisnis masing-masing maskapai.

“Jika harga tiket tidak diizinkan naik setara dengan kenaikan biaya operasional, maskapai tidak akan mampu membiayai operasinya,” ujar Alvin.

Ia menegaskan, dalam kondisi tersebut maskapai dihadapkan pada dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga tiket atau menghentikan sementara operasional penerbangan.

“Pilihan bagi maskapai cuma dua: harga tiket naik atau berhenti operasi. Inilah kenyataan yang harus dihadapi,” tegasnya.

Lonjakan harga avtur dipicu oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Benjamin Netanyahu dan Donald Trump yang dinilai turut memperkeruh situasi energi dunia.

“Terima kasih atas jasa Netanyahu dan Trump,” ujarnya menyindir.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi industri penerbangan nasional, yang masih berupaya pulih dari tekanan global dan fluktuasi harga energi.