JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Konflik geopolitik yang melibatkan Iran turut mengguncang sektor properti di Amerika Serikat. Dampaknya, suku bunga kredit pemilikan rumah (hipotek) kembali meningkat untuk minggu kelima berturut-turut, menambah tekanan bagi calon pembeli rumah.
Berdasarkan data dari Freddie Mac, rata-rata suku bunga hipotek tetap 30 tahun kini mencapai 6,46 persen, naik dari 6,38 persen pada pekan sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Sebagai perbandingan, pada akhir Februari, sebelum konflik memanas, suku bunga masih berada di kisaran 5,98 persen.
Kenaikan ini terjadi pada periode yang kurang menguntungkan. Musim semi biasanya menjadi waktu paling ramai bagi masyarakat Amerika untuk membeli rumah, namun lonjakan suku bunga justru berpotensi menahan aktivitas pasar.
Ekonom senior dari Zillow Home Loans, Kara Ng, menjelaskan bahwa gejolak di pasar obligasi akibat perang menjadi pemicu utama kenaikan tersebut.
“Jika situasinya cepat teratasi, pasar masih punya waktu untuk pulih. Tapi jika perang berlarut-larut, banyak calon pembeli kemungkinan akan menunda pembelian,” ujarnya, seperti dikutip CNN, Jumat (3/4/2026).
Tanda-tanda perlambatan mulai terlihat. Data dari Mortgage Bankers Association menunjukkan bahwa permohonan pembelian rumah turun 3 persen, sementara pengajuan refinancing merosot hingga 17 persen.
Kenaikan suku bunga juga berdampak langsung pada biaya kepemilikan rumah. Untuk rumah seharga 450.000 dolar AS dengan uang muka 20 persen, pembeli kini harus membayar sekitar 1.346 dolar AS lebih mahal per tahun dibandingkan Februari. Dalam jangka panjang, tambahan biaya ini bisa mencapai sekitar 40.000 dolar AS selama masa pinjaman.
Secara umum, pergerakan suku bunga hipotek mengikuti imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Saat ini, pasar obligasi tengah mengalami volatilitas akibat kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi yang berpotensi memicu inflasi.
Dampak tersebut mulai terasa di sektor energi. Harga bensin di AS kembali menembus 4 dolar AS per galon untuk pertama kalinya sejak 2022, memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Situasi ini menempatkan Federal Reserve dalam posisi sulit. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan pihaknya masih mencermati dampak ekonomi dari lonjakan harga energi global.
“Pada akhirnya kita akan menghadapi pertanyaan besar tentang langkah selanjutnya. Tapi saat ini, kita belum tahu pasti dampak ekonominya,” kata Powell.
Kombinasi antara konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter kini menekan sektor perumahan AS. Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh pembeli rumah, tetapi juga perekonomian secara keseluruhan.














