MUI Soroti Dinamika Global, Zaitun Rasmin: Peluang Kebaikan Harus Dibuka, Namun Tetap Waspada


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Perubahan dinamika geopolitik global, khususnya sikap Amerika Serikat terhadap sekutu Baratnya terkait isu Palestina, menjadi sorotan kalangan ulama. Ketua Bidang Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Zaitun Rasmin, menilai situasi tersebut dapat menjadi peluang yang patut dipertimbangkan, meski tetap harus disikapi dengan kewaspadaan.

Menurut Zaitun, perubahan sikap AS yang mulai menjauh dari sekutu tradisional pendukung Israel bisa membuka ruang baru, terlebih setelah Indonesia bergabung dalam forum Board of Peace (BoP) yang mengusung agenda kemerdekaan Palestina.

“Baru pertama kalinya Amerika ini berpisah dengan sekutu-sekutunya di Barat yang selama ini selalu menjadi pendukung utama Zionis Israel. Maka paling tidak ini dianggap sebagai peluang,” ujar Zaitun, dikutip dari WahdahTV, Jumat (3/4/2026).

Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, setiap peluang kebaikan tidak boleh ditutup, meskipun tetap harus disertai sikap hati-hati. Menurutnya, prinsip tersebut relevan terutama dalam upaya mendorong perdamaian.

“Kita tidak sekadar ikut. Konsep Islam ini bahwa setiap ada yang namanya kebaikan patut untuk kita dukung. Apalagi kalau perdamaian,” tuturnya.

Zaitun juga menekankan pentingnya sikap realistis dalam menyikapi dinamika global. Ia mengingatkan umat Islam agar tidak bersikap lugu, tetapi tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian.

Lebih lanjut, ia menilai respons dari masyarakat di Gaza juga menjadi pertimbangan penting. Hingga saat ini, menurutnya, tidak ada penolakan keras terhadap dinamika yang berkembang.

“Saya berkomunikasi dengan mereka bahwa bagi mereka tidak terlalu penting hal-hal yang sifatnya bunga-bunga ini. Mereka menunggu apa substansinya nanti,” ungkapnya.

Zaitun tidak menampik adanya kemungkinan kepentingan politik dari pihak AS, termasuk Presiden Donald Trump. Namun, ia menilai hal tersebut tidak menjadi persoalan selama dapat menghentikan konflik dan membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina.

Ia juga menyinggung peran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dinilai belum maksimal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Sebelumnya, Zaitun turut merespons desakan sejumlah pihak agar Indonesia keluar dari BoP. Ia menilai desakan tersebut perlu dilihat secara objektif, mengingat konflik antara AS, Israel, dan Iran telah berlangsung sebelum forum tersebut terbentuk.

“Kalau pemerintah kita keluar dari BoP, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk benar-benar membantu saudara kita di Gaza?” ujarnya.

Menurut dia, BoP saat ini menjadi salah satu wadah yang paling memungkinkan untuk membahas perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk tetap bersatu dan tidak terpecah dalam menyikapi isu tersebut.

Zaitun menegaskan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Mengakhiri pernyataannya, ia mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah perjuangan bangsa. Ia mengutip pesan Soekarno tentang “jas merah” atau jangan melupakan sejarah, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dalam menghadapi dinamika global yang terus berkembang.