JurnalPatroliNews – JAKARTA — Lonjakan harga plastik di dalam negeri terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Konflik tersebut berdampak langsung pada terganggunya pasokan bahan baku utama industri petrokimia.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa gejolak harga dipicu oleh tersendatnya distribusi nafta, yang sekitar 70 persen pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah.
“Dengan adanya perang ini otomatis pasokan bahan baku nafta yang 70 persen berasal dari Middle East tidak bisa lewat Selat Hormuz,” ujar Fajar, Sabtu (3/4/2026).
Ia memaparkan, pada minggu pertama sejak konflik pecah, kondisi industri masih relatif stabil karena ketersediaan stok bahan baku yang mencukupi. Namun, memasuki minggu kedua, dampak mulai terasa dengan munculnya gejolak harga di pasar.
Situasi semakin memburuk pada minggu ketiga ketika jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz terganggu, ditambah serangan terhadap sejumlah kilang minyak di kawasan tersebut.
“Di minggu ketiga sudah mulai Selat Hormuz ditutup sehingga kita harus mencari alternatif bahan baku selain dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, beberapa kilang juga terkena serangan,” jelasnya.
Memasuki minggu keempat, pelaku industri mulai mencari sumber pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah. Meski demikian, upaya tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan karena adanya kendala logistik dan waktu pengiriman yang lebih panjang.
Fajar menambahkan, negara-negara produsen kini cenderung memprioritaskan kebutuhan domestik, sehingga pasokan untuk pasar global menjadi terbatas.
“Seluruh negara sekarang mengamankan pasokan untuk kebutuhan lokal terlebih dahulu, sehingga di pasar global seolah-olah barang menjadi langka,” katanya.
Di dalam negeri, kondisi ini juga diperparah oleh momentum libur Lebaran yang menyebabkan distribusi belum sepenuhnya normal. Meski stok sebenarnya masih tersedia, gangguan distribusi membuat pasokan di pasar tampak tersendat.
“Sebenarnya barang ada, tetapi karena masih awal Lebaran dan aktivitas bisnis baru berjalan kembali, jadi terlihat seperti ada masalah pasokan,” ujarnya.
Ia memperkirakan industri membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan pola distribusi baru yang lebih kompleks.
“Mau tidak mau kita butuh waktu untuk beradaptasi. Paling tidak dalam 50 hari ke depan akan mulai terlihat pola pasokan yang lebih stabil,” pungkas Fajar.














