JurnalPatroliNews – Jakarta – Narasi sejarah kembali menghantui Gedung Putih di tengah berkecamuknya perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran.
Pendukung Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan sindiran tajam melalui media sosial, menyebut bahwa Presiden Donald Trump kini berada di ambang “penghinaan” yang sama dengan yang dialami pendahulunya, Jimmy Carter, pada akhir dekade 70-an.
“Carter dipermalukan, demikian juga Trump,” tulis akun pendukung Pezeshkian di platform X, Senin (6/4). Pernyataan ini merujuk pada memori kelam Krisis Sandera Iran (1979–1981) yang menjadi titik nadir diplomasi Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dejavu Politik: Memori 1979 Sejarah mencatat, pada 4 November 1979, mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga AS selama 444 hari.
Kegagalan Jimmy Carter dalam membebaskan para sandera termasuk kegagalan operasi militer yang menewaskan delapan tentara AS, menghancurkan citranya di mata publik. Akibatnya, Carter kalah telak dari Ronald Reagan dalam Pemilu 1980.
Kini, di tahun 2026, situasi dinilai memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan bagi Trump. Koresponden senior TIME, Philip Elliott, menyoroti bahwa Trump yang dulu kerap mengejek warisan Carter, kini justru berisiko mengalami nasib serupa.
Risiko Ekonomi dan Target yang Meleset Jika Carter terpuruk akibat krisis sandera dan lonjakan harga energi, Trump saat ini menghadapi tekanan ekonomi domestik yang masif akibat perang yang telah memasuki minggu ke-6.
Angka ini melampaui target awal Trump yang memperkirakan perang hanya akan berlangsung 4 hingga 5 minggu.
Keterlibatan langsung AS dalam serangan ke Iran sejak 28 Februari 2026 telah memicu lonjakan harga minyak global dan inflasi yang menekan pemilih Amerika.
Ironinya, Trump yang saat muda menyebut krisis sandera era Carter sebagai sesuatu yang “konyol” dan “horor”, kini justru terjebak dalam pusaran konflik yang tak kalah kompleks.
Eskalasi di Depan Mata Ketegangan diprediksi akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Melalui cuitan terbarunya, Trump memberikan ancaman akan menyerang infrastruktur vital Iran pada Selasa (7/4) besok. Langkah ini dipandang sebagai upaya “pertaruhan terakhir” untuk mengakhiri perlawanan Teheran.
Namun, bagi Iran, peringatan sejarah 1979–1981 tetap menjadi simbol kemenangan moral. Di tengah peringatan wafatnya Jimmy Carter pada akhir 2024 lalu, dunia kini menanti: apakah Trump mampu mematahkan kutukan sejarah Iran, atau justru menjadi presiden kedua yang “dipermalukan” oleh krisis di Negeri Mullah tersebut.













