JurnalPatroliNews – Jakarta – Di tengah eskalasi militer yang kian memanas, Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik terbuka.
Laporan yang dirilis oleh Axios pada Senin (6/4) menyebutkan bahwa pembicaraan ini melibatkan mediator regional strategis dari Pakistan, Mesir, dan Turki.
Proses negosiasi dilakukan melalui komunikasi tidak langsung antara utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dialog ini menjadi secercah harapan di tengah retorika perang yang mendominasi kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Skema Dua Tahap Menuju Perdamaian Permanen Rencana kesepakatan yang tengah digodok terdiri dari dua fase utama. Tahap pertama adalah pemberlakuan gencatan senjata sementara selama 45 hari.
Periode ini dimaksudkan untuk mendinginkan suasana dan membuka ruang bagi pembahasan penghentian konflik secara permanen. Jika diperlukan, durasi ini dapat diperpanjang untuk pendalaman poin-poin krusial.
Tahap kedua dijadwalkan mencakup kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang secara total. Namun, sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebutkan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan parsial dalam waktu dekat masih sangat kecil.
“Peluang untuk mencapai kesepakatan dalam 48 jam ke depan sangat tipis,” ujar sumber tersebut sebagaimana dilansir dari AlJazeera.
Antara Ultimatum Trump dan Kehati-hatian Teheran Pihak Iran dilaporkan bersikap sangat hati-hati dalam perundingan ini. Teheran mengingatkan para mediator agar tidak terjebak dalam skenario serupa di Gaza atau Lebanon, di mana gencatan senjata dinilai seringkali tidak efektif menghentikan serangan di lapangan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tetap mempertahankan tekanan melalui ultimatum keras. Meski memberikan tambahan waktu 20 jam dari tenggat sebelumnya, Trump melalui platform Truth Social tetap mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan jembatan jika Iran tidak membuka jalur pelayaran Selat Hormuz pada Selasa (7/4) malam.
Hingga berita ini diturunkan, baik Gedung Putih maupun Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar resmi terkait laporan Axios tersebut. Jalur diplomasi kini berpacu dengan waktu, di mana ancaman militer dan negosiasi berjalan di garis waktu yang sama, menyisakan risiko eskalasi yang tetap terbuka lebar bagi stabilitas global.











