10 Warga Gaza Tewas dalam Insiden Berdarah di Dekat Sekolah Pengungsian

JurnalPatroliNews – Jakarta – Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat serangan militer Israel di kawasan Kamp Al-Maghazi, Jalur Gaza, pada Senin (6/4).

Insiden berdarah ini terjadi di area permukiman yang berdekatan dengan sebuah sekolah yang berfungsi sebagai tempat pengungsian bagi warga sipil.

Pihak Rumah Sakit (RS) Al-Aqsa Martyrs mengonfirmasi bahwa dari belasan korban luka, enam orang di antaranya saat ini berada dalam kondisi kritis. Badan Pertahanan Sipil Gaza juga telah memverifikasi dampak kerusakan akibat bombardir tersebut.

Kronologi Bentrokan Faksi Lokal Menurut laporan saksi mata kepada AFP, insiden ini bermula dari ketegangan antara kelompok milisi anti-Hamas bersenjata yang diduga mendapat dukungan Israel, dengan sejumlah penghuni sekolah pengungsian yang terafiliasi dengan Hamas.

Gesekan memuncak ketika milisi anti-Hamas mencoba meringkus beberapa orang di area sekolah. Aksi tersebut memicu perlawanan dari penghuni lainnya hingga terjadi bentrokan fisik.

Tak lama setelah konfrontasi pecah, pasukan Israel dilaporkan melepaskan tembakan dan melakukan pemboman di area sekitar sekolah.

“Bentrokan terjadi saat penghuni mengonfrontasi milisi bersenjata tersebut. Sesaat kemudian, tentara Israel membombardir area sekolah dan melepaskan tembakan ke arah lokasi,” ujar seorang saksi mata.

Gencatan Senjata dalam Bayang-Bayang Kekerasan Insiden ini menjadi catatan kelam kesekian kalinya di tengah upaya gencatan senjata yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.

Meski kesepakatan damai tengah diupayakan, realita di lapangan menunjukkan eskalasi yang masih sangat tinggi.

Data terkini mencatat bahwa sejak periode gencatan senjata tersebut dimulai, sebanyak 723 warga Palestina dilaporkan tewas dalam berbagai insiden kekerasan. Di sisi lain, pada periode yang sama, pihak militer Israel mencatat kehilangan 5 orang tentaranya.

Kekerasan di Kamp Al-Maghazi ini semakin menegaskan rapuhnya stabilitas di Jalur Gaza dan sulitnya mencapai perdamaian permanen bagi warga sipil yang terjebak di tengah konflik faksi dan militer.